Ilustrasi perempuan mengalami depresi. Foto: Freepik

Perempuan Lebih Rentan Mengalami Depresi, Ini Alasannya

Depresi menjadi salah satu gangguan kesehatan tidak boleh diabaikan. Depresi adalah gangguan suasana hati menyebabkan pengidapnya mengalami kesedihan sangat mendalam. Kondisi ini umum ditandai dengan hilang minat pada hal-hal disukai, merasa putus harapan, dan tidak berharga.

Kondisi ini bisa dialami siapa saja, tetapi perempuan diketahui lebih rentan mengalami depresi. Perempuan disebutkan lebih mudah terkena depresi dibandingkan laki-laki.

Menurut penelitian, dilansir dari Times of India, perempuan mengalami depresi dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Melansir Alodokter, tinggi angka depresi pada perempuan bisa terjadi karena berbagai sebab, mulai dari faktor biologis, psikologis, hingga sosial budaya.  

Alasan Biologis

Pada perempuan, perubahan kadar hormon, seperti estrogen dan progesteron, bisa memengaruhi bagian sistem saraf berhubungan dengan suasana hati. Hal ini berkaitan dengan meningkat risiko gangguan kesehatan mental, termasuk depresi.

Umumnya, perubahan kadar hormon perempuan terjadi saat menstruasi, hamil, keguguran, melahirkan, dan menopause.

Alasan Psikologis

Perempuan mengalami ragam fase kehidupan bisa memengaruhi kondisi psikisnya, mulai dari pendidikan, karier, menikah, memiliki anak, hingga proses membesarkan anak.

Selain itu, perempuan memiliki cara unik saat menghadapi masalah. Misalnya, dengan lebih banyak mempertimbangkan dan memikirkan berbagai hal dan kemungkinan, serta lebih melibatkan perasaan saat berada pada suatu hubungan baik dengan teman, kerabat, bahkan pasangan.

Hal-hal itulah memengaruhi kesehatan mental seorang perempuan dan membuat lebih mungkin mengalami depresi.

Alasan Sosial Budaya

Budaya yang ada di masyarakat sering menilai perempuan harus memiliki sikap lembut, bisa mengasuh dan mendidik, serta peka pada orang lain. Penilaian dan budaya ini rentan menjadikan perempuan mendefinisikan dirinya melalui pendapat orang lain. Hal ini akan memengaruhi kesehatan mentalnya.  

Tuntutan perempuan harus bisa berperan ganda turut memberi pengaruh. Misalnya, perempuan sebaiknya ikut bekerja, untuk mencukupi kebutuhan keluarga atau karena rasa takut direndahkan bila hanya menjadi istri dan ibu rumah tangga.

Namun di sisi lain, perempuan tetap dituntut bertanggung jawab atas segala urusan rumah tangga. Peran ganda tanpa ada dukungan dari pasangan dan keluarga bisa memicu rasa lelah, jenuh, stres, bahkan depresi pada perempuan.(*)

Artikel Terkait