Program Makan Bergizi Gratis Dorong Penurunan Stunting di Kabupaten Bandung
Program MBG merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi seimbang bagi a
Istilah strawberry generation atau generasi strawberry menggambarkan generasi muda yang rentan dan lemah menghadapi tekanan.
Generasi strawberry mulanya muncul dari negara Taiwan, istilah ini ditujukan pada sebagian generasi baru yang lunak seperti buah strawberry.
Pemilihan buah strawberry untuk penyebutan generasi baru ini karena buah strawberry itu tampak indah dan eksotis, tetapi begitu dipijak atau ditekan ia akan mudah sekali hancur.
Melansir djkn.kemenkeu.go.id, menurut Prof. Rhenald Kasali, Ph.D pada bukunya dan dalam salah satu kesempatan kuliah online melalui streaming youtube beliau, strawberry generation adalah generasi penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Definisi ini bisa dilihat melalui laman media sosial. Begitu banyak gagasan kreatif dilahirkan anak-anak muda, sekaligus juga tidak kalah banyak cuitan resah penggambaran suasana hati dirasakan mereka.
Menurut Guru Besar Universitas Indonesia ini, terdapat beberapa faktor utama berkontribusi terhadap generasi strawberry, dirangkum dari Kompas.com.
1. Orangtua Kalah dengan Anak
Salah satu penyebabnya adalah orangtua cenderung kalah dalam mengasuh anak. Banyak orangtua saat ini bekerja dalam mode double income lebih memilih menitipkan anak kepada pengasuh.
Ketidakhadiran orangtua dalam pengasuhan langsung mengakibatkan mereka kurang mampu bersikap tegas.
2. Kekhawatiran Berlebihan
Kekhawatiran berlebihan menjadi penyebab mengapa anak bisa tergolong generasi strawberry. Hal ini menunjukkan, bagaimana orangtua tidak membiarkan anak menghadapi kesulitan sedikit pun, bahkan ketika anak tersebut sudah cukup besar.
3. Contoh Buruk Orangtua
Anak-anak bisa menjadi generasi strawberry karena orangtua memberikan contoh tidak baik. Ketika orangtua melanggar aturan, anak akan melihat dan mencontohnya. Dalam situasi lain, orangtua bisa marah pada guru yang menegur anak mereka atau wasit yang mengatur pertandingan.
4. Sekolah Kurang Mendidik Karakter Anak
Generasi strawberry terbentuk jika anak-anak disekolahkan di tempat kurang menitikberatkan pada pendidikan karakter. Di sekolah-sekolah semacam itu, fokus utama adalah pada keterampilan dan kemampuan akademis, bukan pada pengembangan karakter.
5. Selalu Menyelesaikan Masalah Anak
Orangtua selalu menyelesaikan masalah anak mereka karena takut anaknya kesulitan bisa membentuk mental yang lemah. Selalu membela anak ketika anak bersalah, demi menghindari masalah, bisa berdampak buruk pada perkembangan karakter mereka.(*)