Ilustrasi menjalani tren Snail Girl. Foto: Freepik

Mengenal Snail Girl, Tren Hidup Santai Diminati Banyak Perempuan

Belakangan ramai di media sosial tentang tren baru seputar gaya hidup. Salah satu tren yang dibicarakan dan digandrungi banyak perempuan adalah Snail Girl. Tren ini mewakili pergeseran dari budaya Girl Boss.

Mengikuti tren Girl Boss, maka didorong memprioritaskan perawatan diri, kesehatan mental, dan keseimbangan kehidupan kerja sebagai upaya tanpa henti mencapai kesuksesan profesional.

Mengutip Business Insider, istilah Snail Girl atau Gadis Siput diciptakan oleh Sienna Ludbey dalam sebuah artikel untuk Fashion Journal pada bulan September berjudul ‘Snail girl era: Why I’m slowing down and choosing to be happy rather than busy.'

Ludbey adalah seorang desainer dan pendiri toko bernama Hello Sisi menjual tas dan aksesori buatan tangan.

Dia menjelaskan bahwa sebagai Girl Boss merasakan tekanan terus-menerus ‘untuk dianggap sukses’ dan terlihat sibuk dan sibuk.

Namun, setelah pandemi ini, ia mulai menyadari bahwa kehidupan memiliki tujuan tidak selalu dikaitkan dengan kesuksesan.

Ludbey menulis: "Seorang Snail Girl meluangkan waktunya dan berkreasi untuk berkreasi. Kecepatan dalam menampilkan segala sesuatu ke dunia semakin cepat, tapi dia tidak peduli. Dia menjalankan perlombaannya sendiri, dan mungkin perlombaan itu tidak 'Aku tidak akan pergi ke mana pun selain pulang dan kembali tidur'."

Melansir Indonesiadaily.net, Snail Girl adalah tren budaya Gen Z mendorong dan merayakan langkah hidup lebih lambat dan disengaja.

Tren ini memberikan ruang perhatian, perawatan diri, dan kesejahteraan dibandingkan bekerja berlebihan dan gaya hidup budaya perempuan.

Secara kiasan, tren Snail Girl meminta Anda menjadi siput dan menikmati hal-hal kecil dalam hidup, menemukan kegembiraan dalam momen-momen kecil, serta memilih istirahat dan kesenangan di atas produktivitas.

Menurut Calm Sage, alasan utama perempuan lebih tertarik dengan tren Snail Girl adalah karena tren ini membawa pengakuan akan dampak buruk tren Girl Boss terhadap kesejahteraan mental.

Berbeda dengan tren Girl Boss, tren ini menolak anggapan bahwa kesuksesan harus mengorbankan kesehatan mental, emosional, dan fisik.

Ada penelitian menyoroti bahwa mengejar kesuksesan profesional tanpa istirahat dan tekanan terus-menerus mencapai segalanya sekaligus bisa menyebabkan kelelahan, kecemasan, dan bahkan stres kronis.

Selain itu, tren Girl Boss menekankan penanda kesuksesan eksternal seperti harta benda dan kemajuan karier, sedangkan tren Snail Girl tanpa malu-malu mendorong perempuan menerima jati diri mereka, memprioritaskan perawatan diri dan kesehatan mental, serta memilih kebahagiaan dan kedamaian batin atas validasi eksternal dan kesuksesan serba cepat.

Mengutip indonesiadaily.net, ada lima tips bila ingin menerapkan tren Snail Girl dalam kehidupan:

1. Merangkul Perhatian dan Kehidupan Disengaja

Untuk menerapkan gaya hidup lambat, perlu menerapkan kesadaran kehidupan sehari-hari.

Anda bisa dengan mudah memasukkan mindfulness ke rutinitas dalam bentuk meditasi, latihan pernapasan dalam, atau sekadar menjalani kehidupan disengaja alias mengambil momen disengaja merangkul momen-momen kecil dalam hidup saat menjalaninya.

2. Katakan "Tidak" di Waktu yang Tepat

Cara lain menerapkan tren ini adalah dengan mengatakan "tidak" saat dibutuhkan. Ini berarti bisa menetapkan batasan jelas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

3. Sederhanakan Hidup

Menyederhanakan hidup bisa mencakup merapikan ruang fisik berarti menganut gaya minimalis, serta membersihkan ruang digital berarti berhenti mengikuti akun media sosial memperkuat budaya hiruk pikuk.

Menyederhanakan hidup bisa membantu mengurangi stres dan meningkatkan kejernihan mental.

4. Memperbaiki Hubungan

Untuk menerapkan Snail Girl, perlu berinvestasi dan memperbaiki hubungan dengan teman dan keluarga.

Koneksi dan jaringan sosial yang kuat bisa membantu menyambut tren Snail Girl dan juga meningkatkan kesejahteraan.

5. Mengejar Hobi dan Minat Secara Lambat

Ada kesenangan lain menikmati aktivitas berjalan lebih lambat seperti membaca, berkebun, dan bahkan memasak. Hobi-hobi ini bisa menjadi terapi dengan caranya dan memberikan rasa kepuasan.(*)

Artikel Terkait