Ilustrasi orangtua mengajak anak berdiskusi. Foto: Freepik

Sikap Orangtua Membangun Rasa Percaya Diri Anak, Diantaranya Rutin Berdiskusi

Kepercayaan diri merupakan sikap yakin dan positif terhadap segala sesuatu yang ada pada diri sendiri. 

Menurut Lauster dalam bukunya The Personality Test (2002), kepercayaan diri merupakan sikap yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga tidak terlalu cemas dalam bertindak.

Kepercayaan diri berarti perasaan bebas melakukan berbagai hal sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya.

Selain itu, kepercayaan diri juga terlihat dengan kesopanan dalam interaksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi, serta bisa mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

Mengutip theasianparent.com, Carl Pickhardt mengatakan bahwa anak memiliki rasa kurang percaya diri akan merasa tidak mau mencoba hal-hal baru atau hal-hal berupa tantangan karena dia takut untuk gagal dan mengecewakan orangtua atau orang lain.

Muncul rasa percaya diri disebabkan persepsi anak terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain ketika anak merasa dirinya tidak mampu, maka dia tidak akan bisa menyelesaikan hal tersebut.

Peran orangtua membangun rasa percaya diri anak sangat berpengaruh karena sebagai figur utama, orangtua menjadi contoh pertama anak ketika sedang melakukan suatu aktivitas.

Ketika anak melihat bahwa orangtua mempunyai rasa percaya diri tinggi akan memberikan stimulus kalau orangtuanya bisa pasti dia juga bisa.

Tantangan didapatkan sejak anak kecil akan membantunya mengingat bahwa dirinya mampu dan akhirnya mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi.

Rasa percaya diri bisa membantu anak mengatasi kegagalan. Di sinilah, orangtua memiliki peran penting menanamkan rasa percaya diri pada anak.

Melansir berbagai sumber, ada sejumlah cara memupuk rasa percaya diri anak sejak dini.

Membangun Komunikasi

Orangtua bisa mulai membangun komunikasi pada anak mulai dari usia bayi (6-12 bulan) dan balita (1-5 tahun), sebagai fondasi membangun kepercayaan diri sejak dini.

Orangtua harus melibatkan anak dalam pembicaraan serta mau mendengarkan omongannya. Membangun komunikasi positif dengan anak membuat anak merasa lebih berharga.

Rutin Berdiskusi

Orangtua bisa mengajak anak-anak usia 2-4 tahun mendiskusikan aktivitas dilakukan anak. Saat berdiskusi, orangtua hendaknya melibatkan anak dalam membuat keputusan.

Misalnya, orangtua bisa menanyakan pilihan sepatu atau pakaian hendak dipakai anak.

Langkah tersebut bisa membantu melatih anak berani membuat keputusan sehingga tidak terus tergantung pada pilihan orangtua.

Memberikan Kesempatan

Bila ingin anak lebih percaya diri dan mandiri, orangtua bisa memberikan kesempatan pada anak untuk mencoba sendiri.

Meski demikian, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya, sejauh mana perkembangan kemampuan anak.

Hal tersebut penting agar sang buah hati tidak frustrasi sehingga bisa mendapatkan pengalaman sukses. Selain itu, saat memberikan kesempatan bagi anak, pastikan tidak dalam keadaan terburu-buru.

Hal itu agar orangtua bisa lebih bersabar menemani prosesnya. Tak kalah penting, pastikan keselamatan anak saat melakukannya.

Menjadi Panutan

Orangtua dan orang-orang di sekelilingnya bisa menjadi contoh yang baik dijadikan referensi anak. Selain itu, orangtua juga bisa mengenalkan anak kepada sosok yang tepat untuk dijadikan contoh bagi anak, seperti atlet, musisi, ilmuwan, atau tokoh penting lainnya.

Orangtua bisa menceritakan kisah-kisah menarik terkait kerja keras dan semangat pantang menyerah role model tersebut sehingga namanya tetap dikenang.

Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Orangtua kerap mendaftarkan anak pada perlombaan atau kompetisi. Namun, banyaknya peserta lomba, hanya segelintir anak bisa menjadi juara.

Terkadang anak-anak tidak mudah menerima kekalahan sehingga mereka meratapi kegagalan tersebut.

Di sinilah orangtua memiliki peran penting, yakni memberikan pemahaman bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Orangtua bisa memberikan motivasi dan dukungan kepada anak untuk berani kembali melangkah dan mencoba dengan lebih baik lagi.

Orangtua bisa memberikan beberapa contoh kisah orang terkenal kerap mendapatkan kegagalan sampai akhirnya berhasil meraih diimpikan.

Dengan demikian, kepercayaan diri anak tidak mudah tumbang.(*)

Artikel Terkait