Rutin Olahraga Bantu Tingkatkan Produktivitas Seseorang
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memahami hubungan antara kesehatan fisik dan menta
Krisis populasi di Jepang dalam 10 tahun terakhir menyebabkan kisah suram tentang banyak sekolah tutup di pelosok negara itu. Sekolah menengah pertama (SMP) Yumoto di Prefektur Fukushima, salah satu sekolah di Jepang bakal tutup.
Sekolah ditutup
Mengutip Reuters, sekolah bakal ditutup adalah SMP Yumoto. Akhir Maret 2024, institusi ini meluluskan dua siswa terakhirnya, Eita Sato dan Aoi Hoshi. Kabar penutupan sekolah berdiri sejak 76 tahun sudah berembus sejak satu tahun lalu.
"Kami mendengar rumor penutupan sekolah saat di tahun kedua, tetapi aku tak menyangka ini akan benar-benar terjadi. Aku terkejut," kata Eita.
SMP Yumoto merupakan salah satu fasilitas pendidikan tersedia di Desa Ten-ei. Berlokasi di prefektur Fukushima, wilayah ini memiliki kurang dari 5.000 penduduk. Jumlah generasi mudanya, terutama di bawah usia 18 tahun diperkirakan hanya 10 persen.
Padahal, di masa kejayaan desa ini pada 1950, setidaknya ada 10.000 jiwa yang bermukim. Sekolah ini memiliki sekitar 50 lulusan per tahun selama masa kejayaan di pertengahan 1960.
Potret setiap kelulusan terpampang di dekat pintu masuk, dari hitam putih hingga berwarna. Namun, pada 2000, jumlah siswa terlihat di foto menurun. Pada 2022 lalu, tak ada foto bersama untuk kelulusan.
Minim jumlah siswa ini membuat tradisi kelulusan sekolah berubah. Acara kelulusan hanya dilakukan di ruang kelas dihias sederhana. Keluarga Eita dan Aoi tampak hadir dan melakukan sesi foto bersama.
Pengurangan populasi ini tak lepas dari imbas bencana nuklir Fukushima pada 11 Maret 2011 dipicu tsunami. Desa Ten-ei berjarak kurang dari 100 kilometer dari lokasi ditanam nuklir. Praktis, willayah ini terpapar kontaminasi radioaktif. Kondisi itu semakin membuat daerah terpencil berada di situasi sulit.
"Saya khawatir orang tak akan menganggap daerah ini sebagai tempat pindah untuk memulai keluarga jika tak ada sekolah menengah pertama," kata ibu Eita, Masumi, yang juga lulusan SMP Yumoto.
Menurut dosen sosiologi di Universitas Sagami Women, Touko Shirakawa, penutupan sekolah membuat daerah terpencil berada di bawah tekanan lebih besar.
"Penutupan sekolah berarti kotamadya pada akhirnya akan menjadi tidak berkelanjutan," kata Shirakawa.
Penurunan Populasi
Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di Asia, bahkan di dunia. Namun, sejumlah sekolah-sekolah mulai ditutup.
Penutupan sekolah di daerah pedesaan meningkat usai tingkat kelahiran di Jepang anjlok.
Menurut Laporan Survei Populasi (Population Survey Report) pada 30 Agustus 2024, jumlah kelahiran di Jepang menurun sebesar 5,7 persen, atau sekitar 20,978, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada 2023, jumlah kelahiran mengalami penurunan sebesar 3,6 persen atau 13.890 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini menandai tahun ketiga berturut-turut jumlah kelahiran di Jepang, turun di bawah 400.000 antara bulan Januari dan Juni, sebagaimana dilaporkan dari The Independent.
Pada awal tahun 2024 ini, jumlah kelahiran di Jepang turun ke level terendah sejak tahun 1969, menurut data awal pemerintah. Hal ini menandai Jepang mengalami depopulasi.
Mengutip TheWorld, kondisi ini bisa terjadi karena sejak awal abad ke-20, kaum muda pindah ke kota untuk bekerja di perkantoran dan pabrik, bukan di ladang dan hutan pedesaan. Tren ini turut berkontribusi pada angka kelahiran di Jepang yang menurun selama 50 tahun terakhir.
Kini, pemerintah gencar mengatasi masalah menurun demografi. Beberapa di antaranya yakni memperluas fasilitas penitipan anak, menawarkan subsidi perumahan, dan meluncurkan aplikasi kencan dikelola pemerintah untuk mendorong pernikahan dan melahirkan anak.
Pemerintah mendukung pasangan, termasuk memberikan informasi mengenai keseimbangan kehidupan kerja, pengasuhan anak, bantuan perumahan, keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak, serta konseling karier.(*)