Ilustrasi produk Tupperware. Foto: Reuters

Tupperware Resmi Ajukan Bangkrut, Nyaris 80 Tahun Beroperasi

Perusahaan produsen wadah penyimpanan makanan asal Amerika Serikat (AS), Tupperware resmi mengajukan kebangkrutan Chapter 11 pada Selasa (17/9/2024). Sebelumnya pada Agustus 2024, Tupperware meragukan kemampuannya menjalankan bisnis. 

Tupperware Bangkrut

Melansir BBC, Presiden dan CEO Tupperware Brands Corporation, Laurie Ann Goldman mengatakan bahwa mereka akan meminta izin pengadilan memulai proses penjualan bisnisnya, dan ingin perusahaan terus beroperasi selama proses kebangkrutan berlangsung.

Pihak Tupperware menjelaskan permintaan pasar terhadap wadah makan warna-warni semakin menurun, meski sempat meningkat saat pandemi. Selain itu, lonjakan biaya tenaga kerja, pengiriman, dan bahan baku seperti resin plastik pasca-pandemi telah menekan bisnisnya.

"Selama beberapa tahun terakhir, posisi keuangan perusahaan telah sangat terpengaruh oleh lingkungan ekonomi makro yang menantang," ungkap Laurie.

Tepat setahun lalu, perusahaan sudah memperingatkan bahwa mungkin akan bangkrut, kecuali jika Tupperware berhasil mendapatkan pendanaan baru dengan cepat. Tupperware juga sudah berusaha menargetkan penjualan ke pelanggan lebih muda.

"Kami berencana untuk terus melayani para pelanggan kami yang berharga dengan produk-produk berkualitas tinggi yang mereka sukai dan percayai selama proses ini," ujar Laurie dikutip dari BBC.

Dilansir dari CNN, pada April 2023, perusahaan tersebut mengungkapkan dalam pengajuan pengaturan untuk kemungkinan kebangkrutan. 

Lalu, pada 2024, Tupperware menutup satu-satunya pabrik di South Carolina, AS mengakibatkan 148 orang terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sejarah Singkat Tupperware

Melansir laman Tupperware, perusahaan Tupperware pertama kali didirikan Earl Silas Tupper sekitar 78 tahun lalu. Ia merupakan seorang ahli kimia lahir pada 1907. Sejak berusia 21 tahun, Tupper bergabung dengan perusahaan berbasis inovasi dan melakukan berbagai riset.

Dari sana ia berhasil menemukan metode memurnikan ampas biji hitam polyethylene (bahan dasar pembuat plastik) menjadi plastik yang fleksibel, kuat, tidak berminyak, bening, aman, ringan, dan tidak berbau.

Kemudian pada 1938, akhirnya Tupper mendirikan usaha plastik miliknya sendiri bernama Earl S Tupper Company. Melalui perusahaan itu Tupper mematenkan produknya dengan nama Poly-T.

Beberapa tahun berselang, Tupper kembali mendapat ide membuat wadah kedap udara seperti kaleng cat dari plastik untuk menyimpan makanan. Dari sanalah ia kemudian meluncurkan produk Wonderlier Bowl dan Bell Tumbler dengan merek Tupperware pada 1946.

Bertahun-tahun setelahnya, Tupperware dijual hampir 100 negara dan salah satu pasar terbesarnya adalah Indonesia.

Kini, kepemilikan Tupperware sudah terbagi dalam bentuk saham. Sehingga perusahaan ikonik pembuat wadah makanan tersebut sudah dimiliki oleh banyak orang atau perusahaan.(*)

Artikel Terkait