Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Dompet Digital hingga QRIS: Mengapa Transaksi Online Kian Dilirik Wisatawan Indonesia

 

Wisatawan Indonesia kini semakin jarang membawa uang tunai berlebihan saat bepergian. Pemesanan tiket, hotel, hingga pembayaran di tempat wisata makin banyak dilakukan lewat aplikasi dan dompet digital. Pergeseran ini terjadi baik untuk perjalanan domestik maupun ke luar negeri.

Melansir dari Kumparan.com transaksi digital dan QRIS semakin digemari oleh wisatawan Indonesia karena menawarkan kepraktisan, kecepatan proses, serta efisiensi tanpa keharusan membawa uang tunai.

Selain itu, kehadiran fitur QRIS Antarnegara dan berbagai penawaran promo memperluas kemudahan transaksi lintas negara secara real-time. Berikut ini adalah 3 faktor terdepan yang membuat seseorang beralih ke dompet digital hingga QRIS.

1.Kemudahan
Platform agen perjalanan daring memungkinkan wisatawan membandingkan harga, membaca ulasan, dan memesan dalam hitungan menit. Promo, cicilan, dan program poin menambah daya tarik. Pembayaran nontunai juga mengurangi repot menukar mata uang dan risiko membawa uang tunai dalam jumlah besar.

2. Metode pembayaran
Bank Indonesia mendorong penggunaan QRIS, standar kode QR nasional, serta pengembangan QRIS antarnegara bersama sejumlah negara mitra di kawasan, sehingga wisatawan dapat membayar di gerai luar negeri langsung dari aplikasi di Indonesia. Fitur ini menyederhanakan transaksi dan menggunakan kurs yang lebih transparan.

3. Generasi muda yang aktif
Milenial dan Gen Z terbiasa memakai ponsel untuk berbagai kebutuhan, dari memesan transportasi hingga membayar kopi. Perjalanan yang diatur sendiri (independent travel) membuat mereka memanfaatkan aplikasi untuk semua tahap, mulai dari tiket pesawat hingga reservasi tur.

Namun, pakar keamanan siber mengingatkan risiko. Penipuan berkedok situs pemesanan palsu, tautan phishing, dan penyalahgunaan data kartu masih sering terjadi. Wisatawan disarankan memesan lewat platform resmi, memeriksa alamat situs, tidak membagikan kode OTP, dan memakai jaringan internet yang aman, bukan Wi-Fi publik tanpa perlindungan.

Tetap ada alasan membawa uang tunai dalam jumlah kecil. Tidak semua destinasi, terutama kawasan terpencil dan pasar tradisional, menerima pembayaran digital. Koneksi internet yang buruk juga bisa menghambat transaksi.

Bagi wisatawan, kombinasi yang dianjurkan adalah memakai pembayaran digital untuk transaksi utama, membawa uang tunai secukupnya sebagai cadangan, dan menyalakan notifikasi transaksi untuk memantau pengeluaran. Pelaku industri pariwisata diharapkan terus memperluas penerimaan pembayaran digital agar pengalaman berwisata makin mulus.

 

Artikel Terkait