Ilustrasi. Foto: Pinterest

Burnout Bisa Sebabkan Perempuan Usia Produktif Rentan Mengalami Melasma

 

Melasma adalah bercak-bercak yang berwarna kecokelatan atau lebih gelap dibandingkan warna kulit. Melasma umumnya muncul di kulit wajah dan lebih sering dialami oleh wanita, terutama ibu hamil.

Melasma atau chloasma biasanya muncul di kulit wajah, terutama bagian pipi, dahi, dan dagu. Meski jarang terjadi, penyakit kulit ini bisa timbul di lengan atau leher.

Melasma merupakan kondisi yang tidak berbahaya dan bisa memudar dengan sendirinya atau dengan pengobatan dari dokter. Kondisi Melasma ini terjadi karena kulit membentuk melanin lebih banyak pada area tertentu. Kelebihan melanin ini menghasilkan bercak-bercak kecokelatan atau lebih gelap dibandingkan warna kulit.

Dikutip dari Fimela.com Dokter estetika dr. Ratna Yuliarviana menjelaskan bahwa melasma memang tidak dapat hilang secara instan. Dibutuhkan kesabaran, terapi yang tepat, serta kebiasaan merawat kulit secara konsisten.

Dalam praktiknya, redermalisasi dapat dikombinasikan dengan AQ Serum yang mengandung Growth Factors untuk membantu regenerasi sel kulit, mengurangi inflamasi, sekaligus mendukung perbaikan tampilan hiperpigmentasi.

Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, perlindungan terhadap sinar matahari tetap menjadi fondasi utama. Penggunaan sunscreen dengan perlindungan spektrum luas dan SPF tinggi setiap hari menjadi langkah penting untuk membantu mencegah melasma semakin parah sekaligus mengurangi risiko kambuh setelah menjalani perawatan.

Pada akhirnya, di tengah padatnya aktivitas yang sering membuat perempuan lupa meluangkan waktu untuk diri sendiri, kesehatan kulit juga layak mendapat perhatian. Sama seperti menjaga kesehatan mental agar terhindar dari burnout, mengenali tanda-tanda melasma sejak dini dan berkonsultasi dengan dokter dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan kulit sekaligus mengembalikan rasa percaya diri.

Bagi perempuan Indonesia, risikonya mengalami melasma menjad lebih tinggi. Tinggal di negara tropis membuat kulit terpapar sinar ultraviolet (UV) hampir sepanjang tahun. Ditambah lagi, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki tipe kulit Fitzpatrick IV–V yang secara alami lebih mudah mengalami hiperpigmentasi.

Tak hanya sinar UV, paparan visible light, proses inflamasi pada kulit, hingga perubahan hormonal selama kehamilan atau penggunaan kontrasepsi juga dapat memicu munculnya melasma.

 

Artikel Terkait