Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Dari Daging ke Kacang Hijau: Menelusuri Sejarah Bakpia yang Sering Tertukar

 

Bakpia dikenal luas sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta dengan isian kacang hijau. Namun, camilan ini punya cerita asal yang jarang diketahui yang ternyata mulanya bakpia ini berisi daging. Lalu, bagaimana perubahan itu terjadi, dan mengapa banyak orang mengira bakpia asli Jawa?

Nama bakpia berasal dari dialek Hokkien. Dirangkum dari beberapa sumber disebutkan bahwa kata "bak" berarti daging dan "pia" berarti kue, sehingga secara harfiah berarti "kue daging". Kudapan ini dibawa para perantau Tionghoa ke Nusantara dan berkembang mengikuti selera setempat.

Di Yogyakarta, bakpia mulai dikenal luas di kawasan Pathuk. Berbagai catatan lokal menyebut produksi rumahan di sana berkembang pada pertengahan abad ke-20, sekitar 1940-an, oleh keluarga keturunan Tionghoa, meskipun rincian tahun dan pelakunya bervariasi antar sumber. Karena mayoritas warga Yogyakarta beragama Islam, isian daging babi kemudian diganti dengan bahan yang halal dan mudah didapat, yaitu kacang hijau yang dihaluskan dan dimaniskan.

Perubahan isian itu membuat bakpia diterima lebih luas oleh masyarakat setempat. Kacang hijau juga murah, mudah diolah, dan cocok dengan kulit bakpia yang tipis, bertekstur berlapis, dan renyah. Dari sinilah bakpia identik dengan kacang hijau, hingga akhirnya menjadi produk khas Yogyakarta.

Belakangan, bakpia berkembang menjadi industri kreatif. Isiannya makin beragam: cokelat, keju, kumbu hitam, durian, dan kopi. Beberapa produsen memanggang, sementara ada juga versi kukus. Sentra bakpia di kawasan Pathuk kini menjadi destinasi belanja wisatawan.

Bakpia sering tertukar dengan kue serupa, seperti kue pia atau mooncake yang dikaitkan dengan perayaan Tionghoa, karena bentuknya bulat dan berisi. Perbedaannya, bakpia umumnya lebih kecil, bertekstur berlapis renyah, dan isian kacang hijau lebih dominan, sementara kue pia lainnya bisa berbentuk pipih dengan isian yang lebih padat.

Kisah bakpia menunjukkan bagaimana kuliner berkembang lewat akulturasi budaya dan penyesuaian nilai lokal, serta bagaimana sebuah jajanan bisa menjadi identitas daerah.

 

Artikel Terkait