Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Marak 'Dokter AI' di YouTube, Ribuan Video Kesehatan Dipertanyakan Kebenarannya

Konten kesehatan di media sosial kini dibanjiri sosok yang tampak seperti dokter, padahal bukan manusia sungguhan. Setidaknya terdapat 35 saluran dokter palsu di YouTube dari lembaga pemeriksa fakta asal Spanyol, Maldita.es, yang menyelidiki seribu saluran dokter AI di berbagai bahasa.

Dikutip dari tempo.com pengamatan tersebut mempunyai hasil yang mengkhawatirkan. Ke-35 saluran itu telah merilis total 3.856 video kesehatan dengan akumulasi 102,4 juta tayangan dan 1,48 juta pelanggan. Salah satu contohnya, sosok bernama Nadia Permatasari yang mengaku spesialis urologi berpengalaman 15 tahun, namun tidak ditemukan dalam pangkalan data Konsil Kesehatan Indonesia. Tempo menyimpulkan sosok itu adalah avatar rekaan AI.

Tidak semua isi video sepenuhnya salah, tetapi sebagian klaim tidak teruji secara medis. Untuk itu, berdasarkan laporan tempo terdapat dua dokter spesialis yang melakukan verifikasi terkait hal tersebut. Salah satunya, dokter spesialis penyakit dalam Zubairi Djoerban, menegaskan bahwa lansia tetap boleh mandi pagi, membantah klaim di salah satu video.

Kalangan pakar menyoroti target audiensnya. Peneliti keamanan kesehatan global dari Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan pembuat konten semacam ini tidak selalu berasal dari kalangan dokter, dan ada pihak yang menguasai AI lalu membuat akun seolah-olah milik dokter.

Menurutnya, kelompok lansia menjadi sasaran spesifik, bukan kebetulan, karena produk atau layanan yang dipromosikan hendak dijual kepada mereka.

Melansir dari RRI, melaporkan adanya sejumlah iklan memakai pendekatan personal, dengan avatar AI menyerupai orang biasa yang menceritakan pengalaman mengonsumsi suplemen di tempat yang tampak alami seperti kamar tidur atau supermarket.

Lalu bagaimanakah cara mengenalinya? Periksa apakah nama dokter terdaftar di Konsil Kesehatan Indonesia atau tercatat di institusi kesehatan resmi. Waspadai janji "sembuh instan", ajakan membeli produk tertentu, gerak bibir yang tidak sinkron, serta wajah atau gerakan yang terlalu mulus. Bandingkan informasi dengan sumber tepercaya seperti Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, atau rumah sakit.

Di sisi lain, mengandalkan AI untuk mendiagnosis diri sendiri pun berisiko. Dokter umum Prodia Children Jakarta, Kristin Tjandra, mengingatkan bahwa diagnosis mandiri lewat internet dan AI tanpa konfirmasi medis kerap memicu salah persepsi dan kepanikan. Pesannya jelas: informasi digital boleh menjadi awal pencarian, tetapi keputusan medis tetap harus melalui pemeriksaan tenaga kesehatan

 

Artikel Terkait