Ilustrasi. Foto: Pinterest

Studi: Penyakit Gusi Parah Bisa Jadi Tanda Awal Kerusakan Fungsi Ginjal

Sebuah studi kesehatan di media nasional mengungkap adanya keterkaitan antara kondisi penyakit gusi (periodontitis) parah dengan penurunan fungsi ginjal. Temuan ini menambah daftar bukti ilmiah bahwa kesehatan rongga mulut memiliki dampak yang jauh lebih luas terhadap kondisi organ tubuh lain, bukan sekadar berkaitan dengan gigi dan gusi semata.

Melansir dari Kompas.com peradangan kronis akibat infeksi bakteri pada gusi dapat memicu respons inflamasi sistemik dalam tubuh. Kondisi inflamasi berkepanjangan inilah yang diduga turut membebani kerja ginjal dalam menyaring darah, sehingga pada penderita dengan periodontitis parah, risiko penurunan fungsi ginjal disebut meningkat dibandingkan individu dengan kesehatan mulut yang terjaga.

Temuan ini penting terutama bagi kelompok masyarakat yang sudah memiliki faktor risiko penyakit ginjal, seperti penderita diabetes dan hipertensi, di mana kombinasi antara kondisi metabolik yang tidak terkontrol dan infeksi gusi kronis berpotensi mempercepat kerusakan ginjal.

Dokter menyarankan agar pemeriksaan gigi dan gusi secara rutin dijadikan bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular secara menyeluruh, bukan hanya untuk menjaga estetika senyum.

Gejala periodontitis yang perlu diwaspadai antara lain gusi mudah berdarah saat menyikat gigi, bau mulut yang tidak kunjung hilang meski sudah menjaga kebersihan mulut, gigi yang mulai goyang, serta gusi yang tampak menyusut dari permukaan gigi.

Apabila gejala tersebut dibiarkan tanpa penanganan, infeksi dapat menyebar lebih dalam ke jaringan penyangga gigi dan berpotensi memicu komplikasi sistemik.

Langkah pencegahan yang disarankan meliputi menyikat gigi minimal dua kali sehari, penggunaan benang gigi secara rutin, serta pemeriksaan ke dokter gigi setidaknya setiap enam bulan sekali.

Bagi kelompok berisiko tinggi, kombinasi pemeriksaan gigi dan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala dinilai dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih dini, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan organ berkembang lebih jauh.

Artikel Terkait