Ilustrasi. Foto: Pinterest

Krisis Air Bersih di Cilegon Kian Mendesak, Warga Desak Solusi Permanen di Tengah Kekeringan

Krisis air bersih akibat musim kemarau semakin membebani masyarakat di Kota Cilegon, Banten. Sedikitnya 1.250 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan dan masih bergantung pada distribusi bantuan air bersih. Namun, warga menilai pasokan yang diterima belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga mereka berharap pemerintah segera menghadirkan solusi jangka panjang.

Dikutip dari kompas.com Lurah Mekarsari, Fatoni mengungkapkan kondisi yang terjadi didaerahnya yang masih memerlukan bantuan terutama air bersih.

 "Untuk wilayah Gunung Batur dan Tembulum, jumlah warga yang terdampak sekitar 600 kepala keluarga. Jika ditambah dengan wilayah Ciporong, jumlahnya sekitar 650 kepala keluarga lebih," tutur Fatoni.

Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak musim kemarau melanda. Warga mengaku distribusi air melalui mobil tangki memang membantu, tetapi jumlahnya dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Salah seorang warga, Sarah, mengatakan bantuan air yang diterima hanya sekitar dua galon untuk setiap keluarga. Menurutnya, jumlah tersebut hanya bisa dimanfaatkan untuk keperluan terbatas.

"Dapatnya dua galon. Itu hanya cukup untuk mencuci saja," ujar Sarah.

Akibat keterbatasan pasokan tersebut, sebagian warga masih harus mencari sumber air secara mandiri. Mereka rela berjalan cukup jauh menuju sumber mata air sambil membawa jeriken dan galon kosong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat tiba di lokasi, warga juga harus mengantre karena debit air yang tersedia semakin sedikit selama musim kemarau.

Berdasarkan laporan, sebanyak 1.250 KK terdampak kekeringan di wilayah Cilegon. Pemerintah daerah telah mendistribusikan bantuan air bersih secara berkala menggunakan mobil tangki sebagai langkah penanganan darurat. Namun, warga menilai pola distribusi tersebut belum mampu menjawab persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Cilegon menyiapkan langkah jangka panjang berupa pembangunan jaringan pipanisasi agar pasokan air bersih dapat menjangkau kawasan yang selama ini rawan mengalami kekeringan. Program tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan air tangki setiap kali musim kemarau datang.

Selain pemerintah daerah, berbagai pihak juga mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Salah satunya Polres Cilegon yang mendistribusikan ribuan liter air bersih ke sejumlah kawasan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan memperoleh air selama musim kemarau.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di Cilegon bukan hanya membutuhkan respons darurat melalui distribusi air bersih, tetapi juga penyelesaian yang berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur air yang memadai. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi menghadapi kesulitan yang sama setiap musim kemarau tiba.

 

Artikel Terkait