Ilustrasi. Foto: Pinterest

Skinimalism Jadi Gaya Perawatan Kulit yang Digemari Tahun Ini

Tren perawatan kulit di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan skin barrier. Jika beberapa tahun lalu rutinitas skincare terinspirasi dari tren K-beauty sempat menjadi standar kecantikan populer, kini masyarakat mulai beralih ke pendekatan yang lebih sederhana dikenal dengan istilah skin minimalism atau skinimalism.

Diktutip dari Pobela konsep ini menekankan penggunaan produk secukupnya namun tetap efektif, umumnya terdiri dari pembersih wajah, perawatan utama sesuai kebutuhan kulit, pelembap, dan tabir surya. Pergeseran ini didorong oleh kesadaran bahwa penggunaan produk secara berlebihan atau layering berlapis-lapis justru berisiko memicu iritasi, over-exfoliation, hingga merusak lapisan pelindung kulit alami.

Selain itu, tren "glass skin" yang identik dengan tampilan kulit sangat mengilap kini mulai bergeser ke arah tampilan yang lebih natural dan realistis, alih-alih tampak berlebihan menyerupai kaca.

Konsumen kini juga lebih selektif terhadap kandungan bahan aktif, dengan preferensi pada formula yang stabil dan lembut dibandingkan produk berkadar tinggi yang sebelumnya dianggap lebih ampuh.

Industri kosmetik dalam negeri turut merespons perubahan ini dengan mengembangkan produk multifungsi seperti pelembap sekaligus tabir surya berkandungan calming, atau serum hybrid yang dapat digunakan pagi maupun malam hari.

Pendekatan ini dinilai lebih efisien, baik dari sisi konsumen maupun pelaku usaha, karena mengurangi kompleksitas rutinitas harian tanpa mengorbankan efektivitas.

Pergeseran menuju skin minimalism menandai babak baru industri kecantikan Indonesia yang kini lebih menitikberatkan pada kesehatan kulit jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan maupun tren yang viral sesaat di media sosial.

 

Artikel Terkait