Di Balik Bebas Visa: Mengapa WNI Bisa Berlibur ke Negara-Negara ASEAN Tanpa Visa
Tujuan dibalik pembebasan tersebut adalah untuk mempermudah mobilitas wisatawan saat berpergian di w
Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara nasi dingin dan nasi hangat kerap muncul di media sosial. Sebagian orang meyakini nasi dingin lebih sehat bagi penderita diabetes, sementara yang lain bersikeras nasi hangat lebih aman. Para ahli gizi menjelaskan keduanya memiliki pertimbangan masing-masing.
Melansir dari Kumparan.com kunci perdebatan keduanya terletak pada pati resisten. Saat nasi matang didinginkan, sebagian pati mengalami proses retrogradasi dan berubah menjadi pati resisten, yaitu jenis pati yang tidak sepenuhnya dicerna di usus halus dan berperilaku mirip serat.
Dalam beberapa penelitian kecil menunjukkan nasi yang didinginkan kemudian dipanaskan kembali dapat menaikkan gula darah lebih landai dibanding nasi baru matang. Namun, para pakar menekankan efeknya modest dan tidak menjadikan nasi sebagai makanan rendah karbohidrat.
Di sisi lain, ada isu keamanan pangan. Nasi yang dibiarkan pada suhu ruang dalam waktu lama dapat ditumbuhi bakteri Bacillus cereus, yang spora-nya tahan panas dan dapat berkembang biak saat nasi tidak disimpan dengan tepat. Karena itu, mendinginkan nasi untuk tujuan pati resisten harus dilakukan dengan benar. Nasi sebaiknya segera didinginkan dan disimpan di lemari es, bukan dibiarkan semalaman di meja.
Lalu, mana yang lebih baik? Bagi penderita diabetes, jumlah porsi, kombinasi dengan protein dan sayur, serta kontrol gula darah tetap faktor paling berpengaruh dibanding suhu nasi. Menyantap nasi hangat dengan lauk tinggi serat dan protein bisa lebih berdampak. Nasi dingin yang dipanaskan ulang boleh menjadi pilihan tambahan, bukan jaminan.
Untuk masyarakat umum, ahli gizi menyarankan fokus pada porsi, variasi sumber karbohidrat seperti ubi dan jagung, serta pengolahan higienis. Jika memilih menyantap nasi dingin, pastikan penyimpanan benar dan jangan memanaskan ulang berkali-kali.
Penderita diabetes atau kondisi medis tertentu disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengubah pola makan berdasarkan klaim di media sosial.