Arzeti Sebut Program MBG Jadi Jawaban Tepat Atasi Permasalahan Gizi Pada Anak
Tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan asupan gizi masyarakat sekaligus meningkatkan peng
Bandung, Jawa Barat (25/11) – Anak-anak menjadi prioritas utama dalam program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Anak penerima manfaat hari ini terutama dengan rentang usia 6-12 tahun merupakan aset masa depan bangsa yang memiliki potensi besar dalam melanjutkan pembangunan Indonesia.
Mengutip laman resmi Badan Gizi Nasional bgn.go.id data dari UNICEF tahun 2023 mencatat bahwa Indonesia memiliki 72 juta anak, sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah anak terbanyak ketujuh di dunia. Fakta ini semakin memperkuat urgensi membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara fisik dan mental melalui pendekatan yang sistematis dan menyeluruh, termasuk di bidang gizi.
Pernyataan itu disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasettyani saat sosialisasikan program MBG di Warung Kopi Inspiratif, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, pada Jumat (21/11). Menurut Netty, asupan gizi yang tepat dan seimbang untuk anak-anak adalah sebuah investasi mahal jangka panjang bangsa Indonesia.
“Anak dengan asupan gizi yang baik akan tumbuh lebih sehat, mampu berpikir kritis, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa,” ujarnya, program ini harus menjadi gerakan nasional bersama, bukan hanya proyek pemerintah,” ucap Netty Prasettyani.
Nutrisi seimbang dan tepat merupakan kunci mendasar dalam sebagai langkah utama untuk mencetak generasi unggul yang akan menjawab tantangan dimasa depan. Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Lain dengan Netty, perwakilan Badan Gizi Nasional, Teguh Supangardi menyampaikan bahwa program MBG bukan hanya memberikan gizi saja tapi juga ada manfaat lain bagi masyarakat. “Program ini tidak hanya memberikan makanan bergizi, tetapi menggerakkan ekonomi lokal melalui pemanfaatan pangan daerah,” ungkap Teguh.
Keberhasilan program ini tak bisa bergantung pada penyediaan makanan semata. Diperlukan dukungan dari aspek non-materiil, terutama dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya gizi seimbang. Di sinilah edukasi gizi memainkan peran krusial, baik melalui kurikulum formal sekolah maupun pendekatan di luar ruang kelas, guna mengoptimalkan dampak dari kebijakan pemerintah tersebut.