Sosialiasi Makan Bergizi Gratis. Foto: Istimewa

Program MBG Berpontensi Besar Mendorong Kemandirian Pangan

Sungai Utara, Kalimantan Selatan (28/10) - Kemandirian pangan merupakan kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dan dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi kebijakan tepat untuk meningkatkan kualitas SDM masyarakat.

DPR RI bersama mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperluas implementasi program Makan Bergizi Gratis. Program ini diharapkan dapat mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan kuat.

Anggota Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menjelaskan bahwa program MBG tak hanya bermanfaat dalam memberikan gizi seimbang tapi juga dapat mendorong kemandirian pangan disemua daerah.

“Program ini adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap akses pangan bergizi yang layak bagi seluruh lapisan masyarakat. MBG tidak hanya memperkuat ketahanan gizi nasional, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk mendorong kemandirian pangan,” tutur Nihayatul Wafiroh di Ballroom Minosa Resort Hotel, Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, pada Senin, (27/10).

Program MBG juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal. Badan Gizi Nasional bekerja sama dengan petani, peternak, dan nelayan setempat untuk memasok bahan baku makanan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap harinya, ribuan porsi makanan disiapkan di dapur yang dikelola oleh tenaga kerja dari masyarakat sekitar.

“Program ini menghidupkan ekonomi lokal karena bahan pangan dipasok dari daerah sekitar dan tenaga dapur direkrut dari warga setempat,” lanjutnya.

 

Keberhasilan program ini tak bisa bergantung pada penyediaan makanan semata. Diperlukan dukungan dari aspek non-materiil, terutama dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya gizi seimbang. Di sinilah edukasi gizi memainkan peran krusial, baik melalui kurikulum formal sekolah maupun pendekatan di luar ruang kelas, guna mengoptimalkan dampak dari kebijakan pemerintah tersebut.

Keterlibatan lintas sektor dan partisipasi masyarakat yang kuat, program ini diharapkan dapat berjalan optimal dan memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan kualitas kesehatan dan pangan masyarakat.

 

 

 

 

Artikel Terkait