Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Generasi Sehat Dimulai dari Ibu yang Bahagia

 

Upaya membangun generasi sehat tidak hanya soal gizi dan imunisasi anak, tetapi juga kesehatan mental ibu. Para dokter dan psikolog menegaskan bahwa kondisi emosi ibu, sejak hamil hingga masa pengasuhan awal, berpengaruh pada tumbuh kembang anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar satu dari lima perempuan di negara berkembang mengalami gangguan kesehatan mental selama kehamilan atau setelah melahirkan, terutama depresi. Banyak yang tidak terdeteksi karena dianggap sebagai "baby blues" biasa. Baby blues umumnya mereda dalam dua pekan, sementara depresi pascapersalinan bertahan lebih lama dan lebih berat.

Ibu yang tertekan berisiko mengalami kesulitan memberi respons hangat pada bayi, menyusui, dan menjaga pola makan serta tidur. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan masalah perkembangan emosi dan perilaku pada anak. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan jiwa ibu dinilai bagian penting dari pencegahan masalah tumbuh kembang, termasuk tengkes (stunting).

Dukungan keluarga menjadi faktor penentu. Suami diharapkan terlibat dalam pengasuhan, membantu pekerjaan rumah, dan mendengar keluhan istri. Keluarga besar dan lingkungan perlu menghindari komentar yang menyalahkan atau membandingkan cara mengasuh.

Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan posyandu dapat menjadi tempat deteksi dini, misalnya lewat skrining sederhana saat pemeriksaan kehamilan dan nifas. Ibu yang merasa sedih terus-menerus, sulit tidur, kehilangan minat, cemas berlebihan, atau memiliki pikiran menyakiti diri dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Selain dukungan sosial, ibu dianjurkan menjaga waktu istirahat, makan bergizi, aktivitas fisik ringan, serta meluangkan waktu untuk dirinya. Ibu yang bahagia dan sehat bukan kemewahan, melainkan investasi bagi kesehatan anak dan masyarakat.

 

Artikel Terkait