Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Lapar atau Sekadar Ingin Makan? Begini Cara Membedakannya

 

Tengah malam membuka kulkas atau mengambil camilan saat sedang bekerja sering dilakukan tanpa benar-benar lapar. Para ahli gizi dan psikolog menjelaskan bahwa dorongan makan tidak selalu berasal dari kebutuhan energi tubuh. Membedakan lapar fisik dan keinginan makan, atau appetite, dapat membantu mencegah makan berlebihan.

Lapar fisik muncul secara bertahap. Tubuh memberi tanda berupa perut keroncongan, lemas, sulit berkonsentrasi, atau sakit kepala ringan. Ketika lapar, hampir semua makanan terasa menarik, dan rasa lapar hilang setelah perut terisi cukup. Biasanya jarak dari makan terakhir juga sudah beberapa jam.

Sebaliknya, keinginan makan sering datang tiba-tiba dan terkait dengan pemicu tertentu, seperti stres, bosan, sedih, melihat iklan makanan, atau suasana tertentu. Ciri khasnya adalah keinginan terhadap makanan spesifik, misalnya yang manis, asin, atau gurih. Orang cenderung makan tanpa sadar dan kerap merasa bersalah sesudahnya.

Melansir dari liputan6.com berikut ini adalah beberapa cara praktis yang anda bisa coba untuk mengetahui perbedaanya:

1.    Beri jeda 10 hingga 15 menit dan minum segelas air putih sebelum makan; sebagian rasa haus bisa salah dikenali sebagai lapar.

2.    Tanyakan pada diri sendiri apakah mau makan nasi atau lauk sederhana. Bila ya, besar kemungkinan itu lapar sungguhan.

3.    Gunakan skala lapar 1 sampai 10 dan mulai makan pada kisaran 3 hingga 4, serta berhenti ketika terasa nyaman, bukan sangat kenyang.

Pola hidup ikut berpengaruh. Kurang tidur dapat mengubah hormon pengatur nafsu makan, sementara melewatkan makan membuat keinginan makan berlebihan di waktu berikutnya. Mengisi menu dengan protein dan serat membantu rasa kenyang lebih stabil.

Jika makan sering dijadikan pelarian emosi dan sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan psikolog atau ahli gizi dapat membantu. Mengenali pemicu adalah langkah awal membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

 

Artikel Terkait