Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Cegah Stunting di Tengah Pengungsian, Begini Penanganan Anak dan Ibu Hamil Pascagempa NTT

Sepekan lebih pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pemerintah memperketat penanganan gizi bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian guna mencegah lonjakan kasus stunting pada balita di wilayah terdampak.

Melansir dari Kompas.com data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat 14 anak dan 34 perempuan meninggal dunia akibat dampak gempa, sementara puluhan ribu warga masih mengungsi di tenda darurat dengan akses pangan bergizi yang terbatas.

Di sejumlah posko, seperti di Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, tenaga medis melaporkan pasien dan petugas kesehatan kerap hanya mengonsumsi makanan seadanya seperti mi instan dan sayur pepaya akibat minimnya pasokan bahan pangan bergizi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) dan mendirikan dua Rumah Sakit Lapangan di RSUD Ruteng dan RSUD Aeramo, dengan layanan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi menjadi prioritas utama pemulihan.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN juga turut mengerahkan tim penyuluh guna mengawal kebutuhan gizi ibu hamil dan balita, sementara Kementerian Sosial memastikan pasokan logistik bagi lebih dari 31 ribu pengungsi melalui tujuh dapur umum.

Selain distribusi bahan pangan bergizi seperti protein hewani, susu, dan telur, tenaga kesehatan juga melakukan pemantauan status gizi balita secara berkala di posko pengungsian, sekaligus memastikan ibu hamil dan menyusui tetap mendapat akses ke layanan kesehatan dasar meski fasilitas kesehatan di delapan kabupaten/kota terdampak sempat mengalami kerusakan.

Periode pascabencana ini krusial terhadap risiko stunting. Karena gangguan asupan gizi dalam seribu hari pertama kehidupan anak, ditambah tekanan psikologis akibat trauma bencana, dapat mempercepat penurunan status gizi balita secara signifikan jika tidak segera diintervensi.

Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas yang rusak dapat kembali beroperasi maksimal dalam waktu dua pekan sejak gempa terjadi. Selain pemenuhan gizi, dukungan psikososial berupa kegiatan trauma healing bagi anak-anak turut digencarkan di berbagai posko pengungsian sebagai bagian dari penanganan menyeluruh pascabencana.

 

Artikel Terkait