Ilustrasi. Foto: Pinterest.

Kenapa Indomie dan Mi Instan Lain Tak Boleh Terlalu Sering Dimakan?

Mi instan telah lama menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia karena harganya terjangkau, praktis, dan rasanya digemari berbagai kalangan usia. Namun di balik kepraktisannya, sejumlah ahli gizi terus mengingatkan bahaya mengonsumsi mi instan terlalu sering, terutama jika dijadikan sebagai makanan pokok pengganti nasi tanpa tambahan bahan makanan lain.

Melansir dari Kompas.com menurut penjelasan ahli gizi, persoalan utama mi instan bukan terletak pada keamanannya untuk dikonsumsi, melainkan pada kandungan gizinya yang belum tergolong makanan lengkap atau wholesome food.

Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Hardiansyah, menegaskan bahwa mi instan produksi Indonesia yang beredar di pasaran aman dikonsumsi sesuai pengawasan BPOM, namun ia mengingatkan pentingnya menambahkan sayur dan protein saat menyantap mi instan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.

Salah satu kandungan yang perlu diwaspadai dari mi instan adalah tingginya kadar natrium atau garam. Satu kemasan mi instan bisa mengandung sekitar 890 miligram natrium, belum termasuk asupan natrium dari makanan lain yang dikonsumsi pada hari yang sama, padahal batas konsumsi natrium harian yang disarankan tidak lebih dari 2.000 miligram.

Seperti diketahui, garam meski berasal dari sumber yang dianggap alami sekalipun, misalnya garam Himalaya atau garam laut, tetap mengandung natrium dalam jumlah tinggi yang perlu dibatasi konsumsinya setiap hari demi menjaga tekanan darah tetap stabil.

Selain natrium tinggi, mi instan juga rendah serat, protein, vitamin, dan mineral, sementara kandungan karbohidrat dan lemaknya cenderung tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering tanpa variasi makanan lain, kondisi ini berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi, terutama pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, serta meningkatkan risiko gangguan pencernaan dan tekanan darah tinggi dalam jangka panjang.

Untuk tetap bisa menikmati mi instan secara lebih sehat, ahli gizi menyarankan beberapa cara, di antaranya menambahkan sayuran seperti sawi atau wortel, menambahkan sumber protein seperti telur, ayam, atau tahu tempe, mengurangi separuh bumbu bawaan untuk memangkas asupan natrium, serta membatasi frekuensi konsumsi maksimal satu hingga dua kali dalam seminggu. Dengan cara ini, mi instan tetap bisa dinikmati sebagai variasi menu tanpa mengorbankan kebutuhan gizi harian.

 

Artikel Terkait