Program Makan Bergizi Gratis Dorong Penurunan Stunting di Kabupaten Bandung
Program MBG merupakan inisiatif strategis pemerintah untuk memastikan pemenuhan gizi seimbang bagi a
Bagi sebagian orang, kaum Yahudi dinilai identik sebagai bangsa lebih pintar dan sukses dari masyarakat pada umumnya. Fenomena ini terjadi sejak tahun 1900-an hingga sekarang.
Anggapan itu didukung dengan muncul ilmuwan terkemuka hingga penguasa teknologi tak sedikit berasal dari Yahudi.
Dalam kurun waktu 1901-1962, 16 persen pemenang Nobel sains adalah orang Yahudi. Sebut saja fisikawan Albert Einstein peraih Nobel fisika tahun 1921.
Keberhasilan intelektual orang Yahudi di era modern dan keunggulan mereka dalam pekerjaan di berbagai bidang sudah lama menjadi pembicaraan.
Mereka adalah tokoh penguasa teknologi diantaranya CEO Facebook Mark Zuckerberg, CEO Microsoft Steve Ballmer, Co-founder Google Sergey Brin, dan pendiri perusahaan komputer Dell, Michael Dell.
New York Times melaporkan Yahudi sebagai agama memiliki tradisi berbeda dari agama lain. Kepercayaan ini menekankan umatnya berdiskusi terkait isi Taurat, tak hanya mengamati serta mematuhi kitab itu.
Mengacu riset Paul Burstein dalam "Jewish Educational and Economic Success in the United States" (2007) secara spesifik menuliskan di Amerika Serikat, bangsa Yahudi tercatat lebih sukses secara ekonomi dan pendidikan dibanding kelompok bangsa dan ras lain.
Menurut Richard Lynn dan Satoshi Kanazawa dalam "How to explain high Jewish Achievement" (2008) salah satu aspek pendorong kesuksesan bangsa Yahudi adalah adanya nilai-nilai budaya yang kuat.
Ilustrasi keluarga Yahudi. Foto: Istimewa
Memberikan Pendidikan Sejak di Kandungan
Bagi keluarga Yahudi, kesuksesan adalah hal mutlak harus diraih setiap anak tiap generasi. Alhasil, tiap orangtua mengharuskan anak-anaknya berprestasi.
Bahkan, upaya tersebut dilakukan para orangtua kepada anak sejak dalam kandungan. Berdasarkan catatan "Jewish Traditions in Pregnancy & Childbirth" (1997), orangtua Yahudi melakukan dua pendidikan prenatal.
Pertama adalah ibu Yahudi mendengarkan musik saat sedang mengandung memutar musik klasik. Sebab perilaku ini bisa merangsang kecerdasan emosional bayi.
Kedua, para ibu terus mengajak berbicara janinnya. Aktivitas ini dipercaya merangsang sisi emosional bayi.
Hal lain dilakukan adalah para ibu membaca dan mempelajari ihwal matematika. Dengan upaya ini diharapkan bisa mengembangkan kecerdasan intelektual janin.
Ibu mengandung memperhatikan gizi terbaik. Khususnya ikan atau protein lain serta sayuran.
Saat bayi lahir, orangtua merangsang untuk hobi membaca. Aktivitas ini dipercaya sebagai jalan keluar dari kebodohan.
Kunci Sukses Orang Yahudi
Melansir CNBCIndonesia, kunci sukses orang Yahudi:
Pertama, keberhasilan orang Yahudi yang sukses dan punya pencapaian tinggi terjadi sudah sejak lama.
Tak terhitung berapa banyak dari mereka yang berhasil menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan manusia.
Dari sini, banyak orang memandang mereka punya kecerdasan luar biasa.
Sayangnya, pandangan itu diperoleh hanya dari pengamatan secara empiris dan pengukuran kualitatif.
Seperti diungkap oleh Jacobs dalam tulisan Jewish Contribution to Civilization (1919) menyebut, "Yahudi Jerman berada di puncak kesuksesan Eropa".
Dasar Jacobs menyampaikan hal demikian disebabkan, murni oleh pandangan empiris melihat kesuksesan orang Yahudi di Eropa ketika itu.
Namun, akibat belum ada alat ukur berupa tes kecerdasan atau tes Intellectual Quotient (IQ), maka pernyataan tersebut belum tentu sahih.
Barulah saat tes IQ mulai berkembang di pertengahan abad ke-20, hipotesis menyebut orang Yahudi punya kecerdasan tinggi, salah satunya pernyataan Jacobs, bisa diperkuat dengan hasil tes tersebut.
Hasil tes memang menunjukkan bahwa benar orang Yahudi punya kecerdasan di atas rata-rata.
Sedangkan alasan kedua, kesuksesan mereka didasari oleh nilai-nilai budaya yang kuat. Nilai budaya dimaksud Lynn dan Kanazawa adalah etos kerja mengejar kesuksesan.
Bagi keluarga Yahudi, sukses adalah hal mutlak harus diraih setiap anak di tiap generasi.
Alhasil, tiap orangtua mengharuskan anak-anaknya untuk berprestasi. Mereka memberikan asupan gizi terbaik dan memberi motivasi supaya memiliki hobi membaca.
Sebab, mereka percaya kalau literasi adalah satu-satunya cara keluar dari kebodohan.
Hal ini telah dibuktikan sendiri oleh mereka berdasarkan kasus di era Kekhalifahan Islam Abbasiyah (750 M-1258 M).
Ketika itu, mengacu pada riset berjudul The Chosen Few: How Education Shaped Jewish (2012), mereka mengalami peristiwa traumatis berupa penghancuran kuil.
Dari sini, mereka kemudian terpantik bisa membaca dan lari dari jeratan buta huruf.
Singkat cerita, saat sudah memiliki literasi mumpuni, mereka meninggalkan pekerjaan lama di sektor pertanian dan fokus di sektor literasi dan pendidikan.
Ketika menekuni sektor baru inilah mereka percaya kalau dua hal itu terbukti membuat sejahtera dari sisi pendapatan.
Atas dasar inilah, kelak orang Yahudi sangat berorientasi pada pendidikan.
Tak cuma dua alasan itu saja, pendapat lain disampaikan sejarawan Jerry Z. Muller di Project Syndicate.
Menurutnya, sukses orang Yahudi berkaitan erat dengan diskriminasi yang selama ini mereka alami lantas berdampak pada dua hal.
Pertama, mereka jadi memiliki relasi kuat antar Yahudi.
Kelak, relasi ini menjadi pembuka rezeki. Mereka menjadi saling mengenal, bisa memulai pekerjaan dan bisnis baru.
Kedua, mereka menjadi belajar mencari peluang baru yang tidak diminati banyak orang, sehingga bisa mengangkat derajatnya.
Belakangan, mereka bakal menekuni pekerjaan sebagai pedagang atau menciptakan penemuan baru yang belum dipikirkan sebelumnya.
Soal kreasi penciptaan penemuan baru berkaitan dengan kreativitas, riset Paul Burstein dalam "Jewish Educational and Economic Success in United States" (2007) menyebutkan, hal ini bisa terjadi karena mereka skeptis terhadap ide-ide konvensional lokal ditumbuhkan di tempat mereka tinggal.
Jadi, saat tidak mau menggunakan ide-ide tersebut, otak imigran Yahudi berpikir kreatif. Menciptakan cara baru yang kelak merangsang kreativitas dan kecerdasan intelektual.
Nantinya, semua itu berujung pada kesuksesan di bidang ekonomi.
Setidaknya itulah beberapa kunci sukses ala orang Yahudi. Cara-cara itu sebenarnya bisa ditiru oleh semua orang.
Sebab, untuk meraih kesuksesan dan kekayaan perlu banyak belajar dari orang lain, apapun suku bangsa, agama atau etnisnya.(*)