Ilustrasi. Foto: Pinterest

Kulit Tropis, Standar Global: Mengapa Indonesia Perlu Melepas Obsesi Kulit Putih

Selama puluhan tahun, iklan produk kecantikan di Indonesia menjual satu narasi tunggal yaitu kulit putih adalah sebagai kulit yang ideal. Namun, pergeseran budaya dan kesadaran konsumen mulai menantang standar yang dinilai tidak mencerminkan keragaman perempuan Indonesia.

Melansir dari Femina, pasar produk pencerah kulit di Indonesia bernilai miliaran rupiah setiap tahunnya. Dari sabun mandi hingga serum wajah, klaim "whitening" atau "brightening" menjadi daya jual utama. Namun di balik angka bisnis yang menggiurkan, ada pertanyaan yang semakin keras disuarakan mengenai siapa yang menetapkan bahwa kulit lebih terang adalah kulit yang lebih baik?

Akademisi dari Universitas Indonesia mengaitkan obsesi kulit putih dengan warisan kolonialisme yang mengasosiasikan kulit terang dengan kelas sosial lebih tinggi. Representasi ini diperkuat selama puluhan tahun oleh industri periklanan yang mendominasi layar televisi. Riset komunikasi menunjukkan bahwa paparan iklan semacam ini secara konsisten menurunkan kepercayaan diri perempuan dengan warna kulit lebih gelap.

Pergeseran mulai terlihat bila diperhatikan leih mendalam. Brand kecantikan lokal seperti Wardah, Somethinc, dan Avoskin mulai menonjolkan model dengan beragam warna kulit dalam kampanye mereka.

Konten kreator kecantikan Indonesia juga semakin berani mengampanyekan perawatan kulit yang berfokus pada kesehatan bukan pemutihan. Tagar #kulitsehat mendapat respons positif dari konsumen yang mulai lelah dengan standar tidak realistis.

BPOM RI secara berkala merilis daftar produk kosmetik ilegal yang mengandung merkuri dan hidroquinon dosis tinggi bahan berbahaya yang kerap ditemukan dalam produk pemutih kulit tidak terdaftar. Konsumen perlu kritis membaca label dan memastikan produk yang digunakan telah mendapat izin edar resmi, karena risiko kerusakan kulit jangka panjang akibat bahan-bahan ini nyata adanya.

 

Artikel Terkait