Ilustrasi. Foto: Pinterest

Tempe Lebih dari Sekadar Lauk: Superfood Lokal yang Mulai Dilirik Dunia

Di dapur-dapur rumah tangga Indonesia, tempe hadir sebagai lauk sehari-hari yang sederhana. Namun di balik penampilannya yang polos, para ilmuwan gizi menemukan kandungan nutrisi yang membuatnya layak bersanding dengan superfood kelas dunia.

Dikutip dari Kompas.com tempe adalah produk fermentasi kedelai asli Nusantara yang telah dikonsumsi selama ratusan tahun. Proses fermentasi oleh kapang Rhizopus oligosporus tidak hanya menghasilkan rasa khas, tetapi juga meningkatkan kandungan protein nabati dan bioavailabilitasnya secara dramatis.

Setiap 100 gram tempe mengandung sekitar 19 gram protein, menjadikannya salah satu sumber protein nabati terkaya yang tersedia dengan harga terjangkau. Lebih dari itu, fermentasi menghasilkan vitamin B12 alami nutrisi yang langka pada produk nabati serta probiotik yang mendukung kesehatan usus.

Salah satu Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan bahwa isoflavon dalam tempe juga berperan sebagai antioksidan yang membantu melawan radikal bebas.

Meski begitu, adapun beberapa tantangan yang harus dibenahi salah satunya mengenai standarisasi kualitas produksi untuk menembus pasar ekspor yang mensyaratkan konsistensi dan keamanan pangan.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian mendorong inovasi produk turunan tempe dari tempe chips, tepung tempe, hingga suplemen agar nilai tambahnya dapat ditingkatkan. Dengan potensi ini, tempe bukan hanya warisan kuliner, melainkan aset gizi nasional yang perlu dijaga dan dikembangkan.

Mendapat pengakuan Internasional

Tren plant-based diet di Eropa dan Amerika Serikat mendorong lonjakan perhatian pada tempe. Restoran-restoran vegan di New York, London, hingga Amsterdam kini menempatkan tempe sebagai bahan utama, bukan sekadar pengganti daging. Ekspor tempe Indonesia pun mengalami pertumbuhan, meski volumenya masih kecil dibanding potensi sebenarnya.

 

Artikel Terkait