KPPPA Gandeng LPSK Untuk Kawal Korban Kasus Wanita yang Disekap Pacaranya Selama 3 Tahun
Kolaborasi bersama ini adalah sebagai bentuk upaya yang dilakukan untuk memastikan korban mendapatka
Setelah bertahun-tahun glorifikasi kerja keras tanpa henti mewarnai media sosial, muncul gelombang perlawanan diam-diam di kalangan generasi muda Indonesia. Mereka mulai meragukan narasi "grind harder" dan beralih ke filosofi hidup yang lebih pelan, tetapi disengaja.
Melansir dari cnnindonesia.com fenomena burnout hingga kelelahan mental dan fisik akibat tekanan kerja berlebih mulai banyak dibicarakan secara terbuka di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengakui burnout sebagai fenomena pekerjaan yang perlu ditangani secara serius.
Slow living bukanlah kemalasan. Konsep yang berakar dari gerakan Slow Food Italia ini mengajak individu untuk membuat pilihan hidup secara sadar memilih kualitas atas kuantitas, hadir sepenuhnya, dan mengurangi konsumsi berlebihan.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, komunitas-komunitas kecil bermunculan dari klub membaca analog, kelas berkebun urban, hingga retreat digital detox.
Ironisnya, gerakan anti-hustle ini pun viral di media sosial. Konten bertema #slowliving dan #corecore mendapat jutaan penayangan di TikTok Indonesia. Para psikolog mengingatkan agar gerakan ini tidak terjebak menjadi estetika belaka.
Mengurangi kecepatan hidup harus benar-benar tercermin dalam keputusan nyata. Salah satunya yaitu dengan berani menolak lembur, menetapkan batas waktu layar, atau memilih pekerjaan yang bermakna meski gajinya lebih kecil.
Kritik yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa slow living adalah privilege. Bagi jutaan pekerja informal dan buruh dengan penghasilan pas-pasan, "melambat" bisa berarti tidak makan. Diskusi yang jujur tentang gerakan ini harus menyertakan pertanyaan tentang kesetaraan ekonomi dan kebijakan ketenagakerjaan, bukan hanya estetika hidup minimalis.