Menyiapkan Camilan untuk Tamu yang Praktis dan Hemat, dari Manis hingga Gurih
Dengan perencanaan yang matang, camilan praktis dan hemat tetap dapat tampil menarik.
Perubahan suasana hati yang cepat atau mood swing sering dikaitkan dengan menopause. Padahal, dokter menjelaskan bahwa gejala ini bisa muncul pada banyak fase kehidupan perempuan, dengan penyebab yang beragam. Mengenali pemicunya membantu perempuan mencari penanganan yang tepat.
Dikutip dari detik.com fluktuasi hormon estrogen dan progesteron adalah salah satu faktor utamanya. Sebelum menstruasi, sebagian perempuan mengalami sindrom pramenstruasi (PMS) berupa mudah marah, sedih, dan cemas. Pada sebagian kecil, gejalanya sangat berat dan mengganggu aktivitas, kondisi yang disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Kehamilan dan masa nifas juga ditandai perubahan hormon drastis yang dapat memicu emosi naik turun.
Fase perimenopause, yakni masa transisi beberapa tahun sebelum menopause, kerap datang lebih awal dari yang diperkirakan, dan sering muncul di usia 40-an. Gejala emosi pada fase ini bisa lebih menonjol dibanding gejala fisik seperti gelombang panas.
Di luar hormon reproduksi, banyak kondisi lain yang menyerupai mood swing. Gangguan tiroid, baik kelebihan maupun kekurangan hormon, dapat memengaruhi suasana hati dan energi.
Anemia disebabkan karena kekurangan vitamin D atau B12, gula darah tidak stabil, serta sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga dilaporkan berhubungan dengan perubahan emosi. Tak kalah penting adalah faktor psikososial, seperti stres kerja, beban ganda mengurus rumah tangga, kurang tidur, dan gangguan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan.
Dokter menyarankan perempuan mencatat pola gejala selama beberapa siklus, misalnya kapan emosi memburuk dan apa yang menyertainya. Catatan ini membantu dokter membedakan apakah keluhan terkait siklus haid, tiroid, atau kondisi lain. Pemeriksaan darah, termasuk fungsi tiroid dan kadar hemoglobin, dapat dilakukan bila perlu.
Perubahan gaya hidup seperti tidur cukup, olahraga teratur, mengurangi kafein dan alkohol, serta mengelola stres terbukti membantu. Jika gejala berlangsung lama, mengganggu relasi dan pekerjaan, atau muncul pikiran menyakiti diri, segera cari bantuan profesional.