Mirelle Aurellia, Model Indonesia yang Melangkah di Panggung Chanel Paris Fashion Week 2026
Mirelle Aurellia tampil dengan blazer tweed bermotif animal print yang dihiasi detail merah dan hita
Kecerdasan buatan (AI) kini akrab dengan pelajar, mulai dari membantu menjelaskan materi, merangkum bacaan, hingga mengerjakan tugas. Di tengah manfaatnya, muncul kekhawatiran bahwa anak menjadi malas berpikir. Para pendidik menilai AI bisa menjadi teman belajar yang baik asalkan anak dibekali kemampuan dasar untuk menggunakannya dengan bijak.
Dikutip dari liputan6.com setidaknya ada tiga kemampuan yang perlu diasah oleh para orang tua agar anak-anaknya tak terjerumus dalam perkembangan teknologi AI. Berikut ini ada 3 cara yang dianjurkan dan bisa para orang tua praktikan dirumah.
1.Berpikir kritis
Jawaban AI belum tentu benar atau lengkap, sehingga anak perlu terbiasa bertanya mengapa dan membandingkan dengan sumber lain. Orang tua dapat meminta anak menjelaskan kembali jawaban AI dengan kata-katanya sendiri untuk memastikan ia memahami, bukan sekadar menyalin.
2. Literasi informasi dan verifikasi
Anak perlu mengetahui bahwa AI dapat menghasilkan informasi keliru yang tampak meyakinkan. Mereka harus dilatih mengecek fakta ke buku, jurnal, atau media tepercaya, serta memahami batasan etika seperti menghindari plagiarisme dan menyebut sumber.
3. Kreativitas dan pemecahan masalah
AI dapat menjadi pemantik ide, tetapi menyusun gagasan, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah tetap dilatih melalui usaha mandiri. Guru menyarankan anak mencoba mengerjakan sendiri lebih dulu sebelum meminta bantuan AI, kemudian memakai AI untuk memberi umpan balik.
UNESCO dalam panduannya tentang AI generatif di pendidikan, yang dirilis pada 2023, mendorong pendekatan berpusat pada manusia dan menyarankan batas usia minimal bagi penggunaan alat semacam ini di ruang kelas. Panduan tersebut menekankan pentingnya perlindungan data pribadi dan peran guru.
Bagi para orang tua, langkah praktis meliputi menetapkan aturan penggunaan, mendampingi anak yang lebih kecil, dan mendiskusikan hasilnya. Sekolah juga diharapkan menyusun kebijakan yang jelas tentang kapan AI boleh digunakan.
Pada intinya, AI bukan pengganti proses belajar. Jika dipakai sebagai alat bantu yang diawasi, ia dapat memperluas wawasan anak, tetapi jika dipakai untuk menyalin jawaban, kemampuan berpikir justru dapat menumpul.