Pendekatan komunikasi pajak hingga ke warung kopi. Foto: Dokumentasi KPP Pratama Banda Aceh

Angkat Marwah dan Sejarah Endatu, Video Pajak KPP Pratama Banda Aceh Menyentuh Hati Warga Aceh

Banda Aceh –  Kantor Pelayanan Pajak Pratama Banda Aceh, instansi vertikal di bawah Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, menghadirkan pendekatan berbeda melalui sebuah video pendek bernuansa emosional dan kental dengan identitas Aceh.

insert video link: https://www.instagram.com/reel/DX-1KAJxPnL/?igsh=MTZrcWFreHRuanBlNA==

Video bertajuk “Ta Bayeu Pajak, Peumakmu Nanggroe” itu mengangkat tema marwah, sejarah endatu, dan rasa memiliki terhadap Nanggroe geutanyoe. Alih-alih tampil seperti iklan layanan masyarakat biasa, video tersebut dibangun lewat dialog sederhana antara seorang anak dan ibunya tentang pajak, zakat, serta tanggung jawab bersama dalam membangun daerah.

Sejak tayang di media sosial, video tersebut mendapat respons positif dari warganet Aceh. Dalam waktu singkat, tayangan itu telah ditonton lebih dari 20 ribu kali dan menuai banyak komentar apresiatif dari penonton yang merasa pesan dalam video tersebut dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh.

Salah satu bagian yang paling menyentuh perhatian publik adalah ketika sosok “Mak” mengingatkan tentang sejarah rakyat Aceh yang pernah mengumpulkan emas dan membeli pesawat untuk membantu republik berdiri di masa awal kemerdekaan Indonesia.

Melalui narasi yang lembut, video itu mencoba menggugah kembali memori kolektif masyarakat Aceh tentang harga diri, semangat gotong royong, dan kemandirian yang diwariskan oleh para endatu.

Dalam salah satu dialognya, sosok “Mak” berkata,“Marwah itu… dijaga, bukan cuma diceritakan.”

Kalimat tersebut menjadi bagian yang paling banyak dikutip dan dibagikan ulang oleh penonton di media sosial.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh, Ahmad Djamhari, menyebut masyarakat Aceh sejatinya memiliki sejarah panjang tentang kontribusi terhadap bangsa.

Pernyataan itu disampaikannya saat berkunjung ke KPP Pratama Banda Aceh sekaligus menghadiri pemutaran perdana film pendek tersebut pada Selasa, 5 Mei 2026.

“Jangan ajari orang Aceh tentang cinta negara, mereka telah melakukannya sejak awal Indonesia merdeka dengan menyumbang emas untuk beli pesawat pertama Indonesia,” katanya.

Video tersebut lahir dari upaya membangun pendekatan komunikasi publik yang lebih dekat dengan masyarakat

Sebelumnya, Asrifal Handri Rangkuti juga membuat pendekatan baru dengan menggandeng sejumlah warung kopi di Banda Aceh untuk membuka gerai Pojok Pajak. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat berkonsultasi dan memperoleh layanan perpajakan dalam suasana yang lebih santai dan dekat dengan keseharian warga Aceh.

Dalam proses diskusi tersebut, pendekatan komunikasi pajak kemudian diarahkan bukan semata sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai bagian dari rasa memiliki dan cinta terhadap daerah serta negara.

Menurut Asrifal, pendekatan komunikasi pajak harus dibangun di atas kepercayaan publik terhadap pengelolaan pajak.

“Kami sadar, negara tidak bisa hanya menuntut rakyat patuh bayar pajak. Kepatuhan dan kesadaran itu akan lahir jika uang pajak dikelola dengan amanah. Ini soal kepercayaan, dan kepercayaan lahir dari integritas,” ujar Asrifal yang baru dua bulan menjabat sebagai Kepala KPP Pratama Banda Aceh.

Asrifal mengakui berbagai kasus korupsi yang pernah terjadi turut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pajak. Karena itu, menurutnya, penguatan integritas dan pengawasan menjadi hal penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Banda Aceh, Asrifal memahami kuatnya budaya gotong royong dan kontribusi sosial dalam masyarakat Aceh. Dalam tradisi Aceh, semangat itu dikenal dengan istilah meuripee.

“Kalau soal menyumbang untuk pembangunan, orang Aceh jangan diragukan lagi.

Menurutnya, budaya tersebut masih sangat hidup dalam keseharian masyarakat Aceh, termasuk dalam tradisi di warung kopi.

“Coba saja lihat di warung kopi. Orang Aceh sering rebutan membayar untuk satu meja, bukan cuma dirinya sendiri. Artinya, budaya memberi itu masih ada. Jangan tanya apa itu split bill sama orang Aceh, kami tak kenal istilah itu,” tambah pria yang akrab disapa Ari Rangkuti itu.

Berbeda dari kampanye pajak pada umumnya, video ini menggunakan pendekatan budaya dan psikologi sosial masyarakat Aceh. Nilai-nilai seperti marwah, rasa memiliki terhadap daerah, dan semangat tidak bergantung kepada orang lain menjadi benang merah yang dibangun sepanjang cerita.

Melalui video tersebut, KPP Pratama Banda Aceh ingin menyampaikan bahwa pajak bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi juga bentuk kontribusi nyata untuk menjaga dan membangun Nanggroe geutanyoe.

Pajak yang dibayarkan masyarakat akan kembali dalam bentuk pembangunan jalan, pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas publik lainnya yang dinikmati bersama.

Dengan pendekatan yang lebih humanis dan dekat dengan budaya lokal, video “Ta Bayeu Pajak, Peumakmu Nanggroe” diharapkan dapat membangun kesadaran baru bahwa menjaga marwah Aceh hari ini tidak hanya lewat cerita sejarah, tetapi juga melalui tindakan nyata untuk kemajuan daerah sendiri.

Artikel Terkait