Ilustrasi. Foto: Pinterest

Sejarah Hari Pendidikan Nasional yang Jatuh Setiap Tanggal 2 Mei 2026

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Pemerintah menetapkan tanggal tersebut sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan  Ki Hajar Dewantara yang menjadi pelopor pendidikan nasional. Lalu bagaimanakah dengan sejarah ditetapkannya Hari Pendidikan Nasional tersebut?

Keputusan Hardiknas itu tertuang dalam Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959. Memahami sejarah Hardiknas adalah cerminan semangat mewujudkan akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang terkenal dengan semboyan "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," menjadi landasan utama dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Beliau berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau kaum kaya untuk mengenyam bangku pendidikan. Perjuangannya bukan hanya membuka pintu pendidikan bagi pribumi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan karakter yang kuat.

Sejarah Hardiknas

Sejarah Hardiknas tidak dapat dipisahkan dari sosok Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Beliau berasal dari lingkungan keluarga bangsawan Pakualaman, cucu dari Paku Alam III atau Hamengkubuwono II. Meskipun memiliki privilese sebagai bangsawan, Ki Hajar Dewantara memilih untuk mengabdikan hidupnya bagi rakyat.

Pendidikan awalnya ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa dan bangsawan pada masa kolonial Belanda. Ia kemudian melanjutkan ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia, namun tidak menamatkan studinya karena sakit. 

Ketertarikannya pada dunia jurnalistik membawanya bekerja sebagai wartawan di berbagai surat kabar seperti Midden Java, Sedyotomo, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Melalui tulisan-tulisannya yang tajam, ia mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang diskriminatif, terutama dalam bidang pendidikan. Salah satu tulisannya yang paling terkenal, "Als Ik Eens Nederlander Was" (Kalau Aku Seorang Belanda), memicu kemarahan pemerintah kolonial dan mengakibatkan pengasingannya ke Belanda pada tahun 1913.

Pengasingan ke Belanda justru menjadi kesempatan bagi Ki Hajar Dewantara untuk mendalami berbagai konsep pendidikan. Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1919, ia mulai merancang sebuah sistem pendidikan yang berpihak pada pribumi. Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa, atau yang lebih dikenal sebagai Perguruan Taman Siswa, di Yogyakarta.

Taman Siswa didirikan sebagai respons terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif, di mana pendidikan hanya dapat diakses oleh kaum bangsawan dan orang Belanda. Lembaga ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pendidikan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang status sosial atau ekonomi.

Taman Siswa menawarkan jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak (Taman Idria), sekolah dasar, hingga pendidikan guru, bahkan pendidikan profesi seperti Taman Tani, Taman Rini (untuk wanita), dan Taman Karti (untuk pertukangan). Pendirian Taman Siswa ini menjadi tonggak awal kebangkitan pendidikan bangsa dan dianggap sebagai sarana perjuangan untuk memerdekakan bangsa melalui jalur pendidikan.

 

Artikel Terkait