Puan Maharani. Foto: Pinterest.

Tiga Prajurit TNI Gugur, Puan Maharani Minta Pemerintah Evaluasi Misi Kemanusiaan di Lebanon

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi kemanusiaan di Lebanon. Gugurnya pahlawan bangsa tersebut menunjukkan komitmen nyata Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sekaligus menjadi pengingat bahwa tugas kemanusiaan tetap memiliki risiko besar.

Melansir dari Kompas.com Puan Maharani menyampaikan evaluasi perlu dilakukan pemerintah terhadap penugasaan kemanusian tersebut. Gugurnya tiga prajurit TNI tentu menjadi pukulan besar bagi Indonesia yang sedang memperjuangkan misi perdamaian dunia.

"Pemerintah hendaknya melakukan evaluasi terhadap penugasan prajurit TNI dalam wilayah konflik," ujar Puan dalam Rapat Paripurna DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4).

Puan menyampaikan, evaluasi tersebut harus mencakup kejelasan misi, mandat, kesiapan operasional, serta perlindungan maksimal terhadap personel. Dia meminta agar perlindungan yang diberikan harus sesuai standar praktik terbaik internasional dalam operasi pemeliharaan perdamaian PBB.

"Yang menuntut kesiapan dari aspek politik, kapasitas, dan lingkungan operasi," ucapnya.

Sementara itu, Puan mewakili DPR menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon atas nama Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ikhwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon. Mereka gugur saat melaksanakan misi kemanusiaan di Lebanon.

Puan pun menegaskan betapa pentingnya para pihak terkait untuk melakukan investigasi yang kredibel bersama PBB, guna mengungkap fakta secara objektif.

"Upaya ini berlandaskan pada prinsip utama misi perdamaian PBB, yaitu transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan HAM," tutup Puan.

Sebagai informasi, konflik yang terjadi di Lebanon Selatan dikabarkan semakin memburuk akibat meningkatnya intensitas serangan lintas batas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut situasi di lapangan berkembang cepat dan semakin berbahaya, termasuk bagi pasukan penjaga perdamaian.

Artikel Terkait