Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis di Gorontalo, Nihayatul Wafiroh Tekankan Pengawasan Ketat
Kualitas pangan dan gizi merupakan kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Bandar Lampung, Lampung – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto tak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, melainkan investasi strategis untuk melahirkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam sosialisasi program MBG di Ballroom Hotel Golden Tulip, Bandar Lampung, pada Kamis (14/8), Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan bahwa peningkatan status gizi sejak dini merupakan fondasi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Benny Sudarmadji, perwakilan BGN, menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan 82,9 juta penerima manfaat pada akhir 2025, mulai dari peserta didik PAUD hingga SMA, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. “Ketahanan gizi adalah kunci daya saing bangsa. Melalui MBG, kita memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan siap bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Hingga saat ini, tercatat 2.507 Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG) sudah beroperasi di seluruh Indonesia. Rata-rata setiap provinsi ditargetkan memiliki 38 SPPG yang mampu melayani 3.500–4.000 penerima manfaat.
Di Bandar Lampung sendiri, dari potensi penerima manfaat sebanyak 2,37 juta orang, realisasi baru mencapai 521 ribu orang. Angka ini menurut BGN menjadi peluang besar untuk memperluas cakupan layanan gizi dan memastikan lebih banyak anak bangsa dapat merasakan manfaat program MBG.
Selain pemenuhan pangan bergizi, pemerintah juga menekankan implementasi pola makan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) agar masyarakat terbiasa dengan konsumsi pangan sehat yang berkelanjutan.
“Program MBG bukan semata memberi makan, tapi membangun peradaban. Dengan gizi yang baik, lahirlah generasi sehat, cerdas, dan produktif, yang akan menentukan wajah Indonesia di tahun 2045,” ujar Benny.
BGN menegaskan akan terus memperkuat sinergi lintas sektor—pemerintah daerah, UMKM, akademisi, hingga komunitas—agar program MBG benar-benar menjadi gerakan nasional menuju ketahanan gizi masyarakat Indonesia.