Rumah Cinere Belum Laku, Ashanty: Buka Harga 25 M dan Masih Bisa Nego
Ashanty mengingatkan bagi orang yang minat dengan rumahnya tersebut untuk harga masih bisa di nego.
Kesehatan ginjal bisa dilakukan dengan cara meminum konsumsi air minum yang cukup dan juga makan makanan yang cukup dengan protein. Akan tetapi upaya menjaga ginjal tersebut perlu diperhatikan karena apabila berlebihan justru bisa merusak ginjal itu sendiri.
Ginjal adalah organ yang bekerja sepanjang hari tanpa henti. Setiap hari, dua organ seukuran kepalan tangan ini bertugas menyaring 120-150 liter darah untuk membuang produk limbah, racun, dan kelebihan cairan dari tubuh. Cairan dan limbah ini diubah menjadi urine untuk dibuang.
Ginjal juga berperan penting mengatur tekanan darah, menyeimbangkan kadar elektrolit (seperti natrium dan kalium), serta memproduksi hormon yang merangsang pembuatan sel darah merah dan menjaga kesehatan tulang.
Untuk itu kesehatan ginjal perlu dijaga dengan baik agar tak mempengaruhi kondisi tubuh anda. Akan tetapi kebiasaan yang dianggap baik ini menjadi salah satu penyebab yang bisa merusak ginjal.
Dikutip dari Kompas.com berikut ini ada 4 Kebiasaan yang sering dianggap orang menyehatkan ginjal, tetapi justru malah bisa merusaknya.
1.Konsumsi protein berlebihan
Melansir Best Life Konsumsi protein yang cukup sangat penting untuk fungsi tubuh, tetapi jika berlebihan justru dapat merusak fungsi penyaringan darah yang dimiliki ginjal. Hal ini kerap kali terjadi pada orang yang rutin minum protein shake untuk membangun otot.
"Mengonsumsi protein dua atau tiga kali lipat dari yang direkomendasikan tidak akan membangun lebih banyak otot, itu hanya membuat ginjal bekerja lembur," tutur ahli urologi dr. David Shusterman, MD,
Ahli nefrologi sekaligus Chief Medical Officer di Evergreen Nephrology, dr. Tim Pflederer, MD menambahkan, protein yang didapat dari daging hewani sangat berbahaya bagi individu berpenyakit kronis. Ia merekomendasikan untuk segera beralih ke protein nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, dan lentil. Kebutuhan protein yang dianjurkan sekitar 0,8 - 1 gram protein per kilogram berat badan.
2.Mengonsumsi suplemen tertentu
Dokter mengingatkan bahwa suplemen tertentu dalam dosis sangat tinggi justru tidak menyehatkan. Oleh karena itu pada orang dengan penyakit tertentu dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi suplemen. Kunyit, vitamin C, dan kalsium, terbukti memicu pembentukan batu ginjal, sedangkan vitamin D memicu masalah pada penderita penyakit kronis.
"Suplemen vitamin D dapat berinteraksi dengan pengikat fosfat yang mengandung aluminium yang sering digunakan pada pasien penyakit ginjal kronis untuk mengurangi kadar fosfat dalam darah," terang konsultan klinis farmasi, HaVy Ngo-Hamilton, PharmD.
"Oleh karena itu, vitamin D dapat menghasilkan kadar aluminium yang berbahaya pada penderita penyakit ginjal kronis," tukasnya.
3.Meminum teh detoksifikasi
Berbagai teh detoksifikasi menjanjikan pembuangan racun dan penurunan berat badan secara instan meski sangat minim bukti ilmiah. Produk ini memiliki kandungan diuretik yang meningkatkan produksi urine secara drastis, yang berujung pada dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit penekan kerja organ. Dokter Shusterman mengatakan, teh ini biasanya menggunakan ramuan yang tidak terukur, seperti akar manis, hiperikum, dan daun jati cina. "Detoksifikasi terbaik adalah yang sudah dimiliki tubuh, yaitu ginjal. Dukung organ ini dengan makanan utuh, serat, dan hidrasi. Jangan percaya tren sesaat," imbau dr. Shusterman.
4. Terlalu banyak minum air
Kondisi hidrasi berlebih sangat mungkin terjadi saat kamu menenggak air berjumlah banyak dalam waktu singkat. Ternyata, kondisi ini berbahaya untuk kesehatan ginjal. Ginjal bertanggung jawab untuk menyeimbangkan jumlah air dan elektrolit, seperti natrium, di tubuh. Namun, organ ini hanya dapat memproses sekitar 0,8 hingga 1,0 liter air per jam. Jika kamu minum air lebih cepat daripada ginjal dapat menyaringnya, elektrolit di aliran darah dapat menjadi encer.
Hal tersebut bisa menjadi masalah karena natrium membantu mengatur keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel-sel. Jika terlalu sedikit, itu dapat menyebabkan pembengkakan. Kondisi ini bisa memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk otak, yang dapat menyebabkan beberapa gejala serius dan, dalam kasus yang sangat jarang terjadi, kondisi yang mengancam jiwa.