Ilustrasi. Foto: Pinterest

WHO Prediksikan Kasus Kanker Global Bisa Menembus Hampir Dua Kali Lipat pada 2050

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa dunia akan menghadapi lonjakan signifikan kasus kanker dalam beberapa dekade mendatang apabila upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan tidak segera diperkuat secara lebih merata di seluruh negara.

Melalui WHO Global Status Report on Cancer 2026 yang disusun bersama International Agency for Research on Cancer (IARC), WHO memperkirakan jumlah kasus baru kanker akan meningkat dari sekitar 20,6 juta kasus setiap tahun menjadi hampir 35 juta kasus per tahun pada 2050. Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia.

Melansir laporan kompas.com Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa kanker kini bukan lagi persoalan yang hanya dialami kelompok tertentu. Menurutnya, hampir seluruh masyarakat dunia akan terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh penyakit tersebut.

"Kanker adalah penyakit yang sangat personal dan menyentuh hampir semua orang. Namun, apakah seseorang dapat bertahan hidup seharusnya tidak ditentukan oleh tempat ia dilahirkan atau besarnya pendapatan," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam laporan WHO.

WHO memperkirakan sekitar 92 persen populasi dunia akan merasakan dampak kanker, baik sebagai pasien maupun melalui anggota keluarga, sahabat, atau orang terdekat yang mengalaminya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kanker bukan hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang luas.

Selain meningkatnya jumlah kasus, WHO juga menyoroti masih besarnya kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam diagnosis maupun pengobatan kanker dinilai belum dapat dinikmati secara merata, terutama di negara-negara dengan keterbatasan sumber daya.

Tedros menilai ketimpangan tersebut bukan merupakan kondisi yang tidak dapat diatasi. Ia menyebut perbedaan peluang pasien untuk memperoleh pengobatan dan bertahan hidup merupakan konsekuensi dari kebijakan yang masih perlu diperbaiki melalui komitmen bersama.

Di sisi lain, laporan WHO juga mencatat sejumlah perkembangan positif dalam pengendalian kanker. Penurunan konsumsi tembakau, perluasan program vaksinasi untuk mencegah kanker yang dipicu infeksi, serta semakin banyaknya negara yang memiliki rencana nasional pengendalian kanker menjadi langkah yang dinilai memberikan harapan.

WHO menegaskan bahwa berbagai capaian tersebut harus dibarengi dengan pemerataan akses terhadap layanan kesehatan. Organisasi itu mendorong setiap negara untuk memperkuat program pencegahan, meningkatkan layanan skrining dan deteksi dini, serta memastikan pasien memperoleh pengobatan yang berkualitas tanpa terhambat oleh faktor ekonomi maupun wilayah tempat tinggal.

 

Artikel Terkait