Ilustrasi. Foto: Pinterest

5 Nutrisi Wajib bagi Wanita Usia 30-an agar Tetap Bugar dan Berenergi

Memasuki usia 30 tahun, tubuh wanita mengalami berbagai perubahan signifikan mulai dari melambatnya metabolisme hingga menurunnya kepadatan tulang. Para ahli gizi menekankan pentingnya asupan nutrisi yang lebih terarah untuk mendukung kesehatan jangka panjang di fase kehidupan ini.

Dikutip dari suara.com nutrisi pertama yang dibutuhkan adalah folat atau asam folat yang penting bagi wanita hamil karena membantu mencegah cacat lahir pada janin dan mendukung pembelahan sel, serta tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan kardiovaskular meski tidak sedang hamil. Kedua, vitamin B12, di mana kemampuan tubuh menyerap nutrisi ini dari makanan cenderung menurun setelah usia 30 tahun, dan kekurangannya kerap menyebabkan kelelahan berkepanjangan serta konsentrasi buruk.

Kepadatan tulang wanita mencapai puncaknya sekitar usia 30 tahun, setelah itu mulai menurun secara alami. Asupan kalsium yang cukup, terutama dikombinasikan dengan vitamin D3, dapat mendukung kekuatan tulang dan mencegah risiko osteoporosis di kemudian hari. Nutrisi ketiga ini menjadi salah satu yang paling direkomendasikan oleh para ahli.

Wanita usia subur membutuhkan sekitar 18 miligram zat besi per hari untuk mencegah anemia, terutama karena mengalami menstruasi secara rutin. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kelelahan, kulit pucat, dan kesulitan berkonsentrasi dalam menjalani aktivitas harian.

Nutrisi kelima yang tak kalah penting adalah omega-3, yang berperan besar bagi kesehatan jantung dan otak. Kandungan ini membantu mengurangi peradangan, menurunkan kolesterol jahat, sekaligus meningkatkan kolesterol baik dalam tubuh. Sumber omega-3 dapat diperoleh dari ikan salmon, sarden, chia seed, hingga minyak ikan.

Makanan alami seperti ikan berlemak, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian menjadi sumber utama yang direkomendasikan sebelum beralih ke suplemen.

Para ahli gizi menyarankan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker sebelum memulai program suplementasi, mengingat kebutuhan setiap tubuh berbeda dan suplementasi berlebihan berpotensi memberi tekanan pada organ hati maupun ginjal.

Artikel Terkait