Ilustrasi. Foto: Pinterest

Gelombang Korean Food hingga Jajanan Kaki Lima Kian Deras di Indonesia

Popularitas kuliner khas Korea Selatan di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan, seiring semakin kuatnya pengaruh budaya pop Korea di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda. Berbeda dari beberapa tahun sebelumnya yang hanya didominasi satu-dua menu populer, ragam Korean food kini berkembang menjadi tren besar dengan variasi menu yang jauh lebih luas, mulai dari hidangan berat hingga camilan kekinian.

Dilansir dari detik.com Korean BBQ menjadi salah satu sajian bersantap yang paling diminati, di mana pengunjung memanggang daging langsung di meja makan dan menyantapnya bersama beragam saus serta hidangan pendamping seperti kimchi.

Selain hidangan berat, jajanan kaki lima ala Korea juga semakin digemari, seperti tteokbokki atau kue beras pedas, odeng atau olahan fish cake, hingga corndog berisian keju yang meleleh saat digigit. Menu-menu tersebut kini banyak dijajakan di kafe maupun gerai kaki lima dengan tampilan yang dirancang menarik untuk menarik minat pelanggan.

Tak hanya makanan berat dan camilan asin, dessert ala Korea turut mengalami lonjakan popularitas. Ragam varian es krim dengan tampilan unik menjadi salah satu daya tarik utama, karena banyak konsumen tertarik mencoba produk dengan visual berbeda dari es krim konvensional, lalu membagikan pengalamannya kembali di media sosial.

Fenomena ini menjadikan makanan penutup bukan lagi sekadar pelengkap santapan, melainkan bagian dari pengalaman kuliner yang bersifat estetik dan layak dibagikan.

Menjamurnya minimarket bertema Korea di berbagai kota besar turut memperkuat aksesibilitas produk-produk pangan khas negeri ginseng tersebut, mulai dari mi instan hingga makanan segar siap saji. Pertumbuhan ini juga membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM kuliner lokal yang mengadaptasi resep Korea dengan sentuhan cita rasa Indonesia.

Meski demikian, sejumlah pengamat kuliner mengingatkan agar pelaku usaha tidak hanya mengandalkan tren sesaat, melainkan tetap menjaga konsistensi rasa dan kualitas bahan baku, mengingat popularitas suatu jenis makanan viral kerap bersifat fluktuatif yang terkadang bergantung dari tren di media sosial.

 

Artikel Terkait