Perkedel Indonesia Sabet Juara Lauk Pendamping Terenak se-Asia Tenggara
Perkedel dinobatkan sebagai lauk pendamping terenak di Asia Tenggara 2026 versi TasteAtlas.
Sakit perut pada anak sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda usus buntu (apendisitis), kondisi darurat yang memerlukan penanganan medis cepat. Orang tua diimbau mengenali gejalanya karena anak, terutama yang masih kecil, sulit menjelaskan rasa sakit dan berisiko lebih cepat mengalami komplikasi.
Usus buntu terjadi ketika apendiks, kantong kecil di ujung usus besar, meradang akibat sumbatan atau infeksi. Bila tidak ditangani, apendiks dapat pecah dan menyebarkan infeksi ke rongga perut, yang berbahaya dan bisa mengancam jiwa.
Melansir dari liputan6.com gejala klasik usus buntu biasanya dimulai dengan nyeri di sekitar pusar. Dalam beberapa jam, nyeri berpindah ke perut kanan bawah dan terasa makin tajam. Gejala penyerta meliputi hilang nafsu makan, mual, muntah, demam ringan, serta perut terasa keras atau kembung. Anak sering tampak lesu dan enggan bergerak. Nyeri yang memburuk saat berjalan, melompat, batuk, atau saat perut ditekan lalu dilepas menjadi petunjuk penting.
Pada balita, gejalanya bisa tidak khas: rewel terus-menerus, menolak makan, muntah, perut membuncit, atau menarik lutut ke arah dada. Karena itu, dokter menekankan pentingnya mencermati perubahan perilaku anak.
Apa yang sebaiknya dilakukan? Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan atau instalasi gawat darurat bila nyeri perut hebat, berlangsung lebih dari beberapa jam, disertai muntah dan demam. Dokter akan memeriksa fisik, dan bila perlu melakukan tes darah, USG, atau CT scan untuk memastikan diagnosis.
Hal yang tidak dianjurkan: memberikan obat pencahar, memijat perut, atau memberi obat pereda nyeri sebelum diperiksa, karena dapat menutupi gejala atau memperparah kondisi. Sebaiknya anak dipuasakan sementara sambil menunggu pemeriksaan, kalau-kalau diperlukan operasi.
Penanganan utama usus buntu adalah operasi pengangkatan apendiks (apendektomi), yang kini sering dilakukan lewat teknik laparoskopi dengan pemulihan lebih cepat. Pada kasus tertentu yang belum rumit, dokter dapat mempertimbangkan pengobatan antibiotik. Semakin cepat dikenali, semakin kecil risiko komplikasi.